Why Is the ‘Mona Lisa’ So Famous?

LIHAT DAN DENGARKAN VIDEO 2X

1X
– Lihat dan dengarkan video TANPA menyalakan subtitle / melihat transkrip dan terjemahan
– Tujuan dari langkah ini adalah membiasakan memahami atau menebak pada pendengaran pertama
– Di dunia nyata, tidak akan ada transkrip dan terjemahan, kita harus bisa mengenali dan memahami yang diucapkan pembicara/lawan bicara

– Lakukan 2 tebakan
– #1 Tebak apakah kamu bisa mendengar / mengenali kata-kata yang diucapkan
– #2 Tebak apakah kamu tahu penulisan + paham arti kata-kata yang diucapkan

– Tidak usah khawatir jika ada kata-kata yang tidak bisa dikenali dan ada kata-kata yang tidak bisa dipahami.

2X
– Putar ulang video sembari melihat Transkrip & Terjemahan
– Periksa apakah tebakanmu tadi benar
– Kalau di pendengaran pertama ada kata-kata yang kamu TIDAK bisa kenali dan pahami, ingat-ingat penulisan + artinya.

Let’s play a game.
Mari bermain.

Think of a famous painting.
Pikirkan satu lukisan yang terkenal.

Guess what?
Tahu ngga?

You just thought of me.
Kamu baru saja memikirkanku.

Today, I’m the world’s most renowned work of art, but it wasn’t always this way.
Saat ini, aku adalah karya seni yang paling terkenal di dunia, tapi dulunya tidak selalu seperti ini.

My story is full of surprises, and it all began in a studio in Florence.
Ceritaku penuh dengan kejutan, dan itu semua bermula di sebuah studio di Florence.

Well, here’s the master himself, Leonardo da Vinci.
Inilah sang maestro itu, Leonardo da Vinci.

He worked on me on and off for a few years towards the end of his career.
Dia melukisku sekali-sekali selama beberapa tahun di masa akhir karirnya.

You’re a minor work, my dear, some interesting shading, nothing more.
Kamu adalah hasil karya yang tidak penting, sayangku, beberapa bayangan yang menarik, dan tidak lebih.

We’ll just see about that.
Kita tunggu saja.

Over the next 300 years, I hung quietly in French palaces and royal bathrooms.
Selama 300 tahun berikutnya, aku terpajang secara sunyi di istana Perancis dan kamar mandi kerajaan.

The things I’ve seen.
Hal-hal yang aku pernah lihat.

I want you.
Aku menginginkanmu.

Until finally I was noticed by a man who had already made quite a name for himself.
Sampai akhirnya aku diperhatikan oleh seorang laki-laki yang sudah mencapai ketenaran.

When Napoleon chose me to hang on his bedroom wall, people took notice.
Ketika Napoleon memilih aku untuk dipajang di kamar tidurnya, orang-orang memperhatikan.

I look forward to sleeping with you, my cherie.
Aku mendambakan tidur dengamu, sayangku.

After he had his whole exile from France thing, they tossed me on a wall at The Louvre.
Setelah pengucilannya dari Perancis, mereka mencampakkanku di dinding Louvre.

But at this point, I was still just another Renaissance portrait.
Tapi sampai saat itu, aku hanya sekedar lukisan Renaissance.

Until one night.
Sampai satu malam.

I was stolen!
Aku dicuri!

It was pandemonium.
Kegaduhan terjadi.

Paris was in an uproar.
Paris gempar.

The police hauled people in left and right.
Polisi menangkapi orang-orang.

The hysteria hit a fever pitch when the police suspected and interrogated one of the most famous artists in the world, Pablo Picasso.
Histeria massa memuncak ketika polisi mencurigai dan menginterogasi salah satu artis ternama dunia, Pablo Picasso.

But Picasso was innocent.
Tapi Picasso tidak bersalah.

The thief turned out to be an Italian carpenter.
Pencurinya ternyata adalah seorang tukang kayu warga Italia.

He was caught in Florence.
Dia ditangkap di Florence.

And I returned to The Louvre.
Dan aku kembali ke Louvre.

From that day forward, I became the darling of the art world.
Sejak saat itu, aku menjadi kesayangan dunia seni.

Everyone wanted to see Napoleon’s da Vinci painting Picasso was suspected of stealing.
Semua orang ingin melihat lukisan da Vinci milik Napoleon yang dicurigai dicuri oleh Picasso.

Soon, tourists crowded in and most people forgot why I was famous in the first place.
Segera setelah itu, turis berbondong-bondong datang dan sebagian besar orang lupa mengapa aku terkenal awalnya.

That might raise some eyebrows, but not mine since I don’t have any.
Ini mungkin akan membuat alis naik, tapi bukan alisku karena aku tidak punya.

Oh, you didn’t notice I don’t have any eyebrows?
Oh, kamu tidak perhatikan kalau aku tidak punya alis?

I told you, I’m full of surprises.
Aku sudah bilang padamu, aku penuh kejutan.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.