This Startup Wants To Help Travelers Get Online Wherever They Go

SUMBER BERITA
https://money.cnn.com/2018/08/26/smallbusiness/handy-smartphone-tink-labs/index.html

TIPS BELAJAR
1. Baca konten berita di atas.
2. Baca terjemahan dari konten berita.
3. Dengarkan audio dari konten berita.
4. Dengarkan lagi audio dari konten berita sampai kamu mengerti pengucapan setiap kata.
5. Tirukan audio pengucapan konten berita.

TERJEMAHAN
When Terence Kwok went traveling to Europe as a student in 2011, he returned home to a $900 phone bill.
Ketika Terence Kwok pergi melancong ke Eropa ketika masih seorang pelajar di tahun 2011, dia kembali dengan tagihan telepon sebesar 900 dolar.

For the frequent traveler, who was then 20 years old and studying at the University of Chicago, that incident turned into a money-making opportunity.
Bagi pelancong rutin seperti dia, yang berusia 20 tahun waktu itu dan kuliah di University of Chicago, insiden tersebut berubah menjadi sebuah peluang mendatangkan uang.

“It made me realize that, even with smartphones, staying connected while traveling abroad was highly costly and inconvenient,” Kwok said.
“Hal itu membuatku sadar bahwa, bahkan dengan telpon pintar, tetap terhubung meskipun sedang melancong kel luar negeri sangat mahal dan tidak nyaman,” kata Kwok.

To solve travelers’ internet woes, Kwok created Handy, a cell-phone designed for guests staying in hotels overseas.
Untuk memecahkan derita internet bagi pelancong, Kwok menciptakan Handy, sebuah telepon genggam yang didesain untuk tamu yang menginap di hotel-hotel di mancanegara.

Handy allows guests to use 3G internet and make unlimited calls. It features local travel guides and controls for things like lighting and curtains in the hotel room — but it can also be taken out and about like a regular phone.
Handy memungkinkan tamu untuk mengakses koneksi internet 3G dan melakukan panggilan telepon secara tidak terbatas. Handy juga memiliki fitur panduan wisata lokal dan kontrol untuk beberapa hala seperti lampu dan korden di kamar hotel – tapi juga bisa dibawa keluar seperti halnya telpon biasa.

Today, the devices are available in more than 2,000 hotel companies in 82 countries. And Kwok’s backers include Japanese tech conglomerate SoftBank (SFTBF).
Saat ini, piranti ini tersedia di lebih dari 2.000 perusahaan hotel di 82 negara. Dan pendukung Kwok meliputi konglomerat teknologi dari Jepang Softbank (SFTBF).
*SFTBF adalah identitas Softbank di bursa saham.

Starting out in Hong Kong
Memulai dari Hong Kong

In 2012, Kwok dropped out of his studies in Chicago to pursue his idea for Handy in Hong Kong, his hometown. He founded a startup, Tink Labs, that year.
Pada tahun 2012, Kwok berhenti dari kuliahnya di University of Chicafo untuk mengejar idenya untuk Handy di Hong Kong, kota kelahirannya. Dia mendirikan sebuah perusahaan rintisan bernama Tink Labs di tahun itu.

Kwok secured initial funding for his cell-phone idea from a friend who had also been unpleasantly surprised by a huge roaming bill after traveling overseas. He hired two employees and rented a small office in Hong Kong.
Kwok mendapatkan pendanaan awal untuk ide telepon genggamnya dari seorang teman yang juga dikagetkan tagihan telepon yang tinggi setelah melancong ke luar negeri. Dia merekrut dua karyawan dan menyewa sebuah kantor kecil di Hong Kong.

Kwok said Hong Kong appealed as a place to start the business because it’s “where my roots lie” and one of the world’s top travel destinations, providing a great opportunity to start trying to reach Handy’s target audience.
Kwok mengatakan Hong Kong menarik sebagai tempat untuk memulai usaha karena “di sinilah akarku” dan salah satu tujuan wisata terbaik di dunia yang memberikan peluang emas untuk mulai menjangkau target audiens Handy.

At first, the phone was available to rent at airports. It later became a device exclusively for hotel guests.
Awalnya, telepon Handy hanya tersedia untuk disewakan di bandar-bandar udara. Kemudian berkembang menjadi piranti yang secara eksklusif disediakan bagi tamu hotel.

Handy runs on a customized version of Google’s (GOOGL) Android operating system, which Tink Labs modifies for hotel guests’ use.
Handy beroperasi menggunakan versi modifikasi dari sistem operasi Android milik Google yang dimodifikasi oleh Tink Labs untuk digunakan tamu hotel.

‘A product that guests really wanted’
‘Sebuah produk yang benar-benar diinginkan tamu’

It took nine months for the startup to secure its first hotel partner in Hong Kong, according to Kwok.
Perlu waktu sembilan bulan bagi perusahaan rintisan ini untuk mendapatkan mitra hotel pertamanya di Hong Kong, menurut Kwok.

“Hotels are very traditional, but we had created a product that guests really wanted,” he said. “The idea was to provide everything they need — connectivity, recommendations, coupons, attraction tickets.”
“Hotel-hotel sangat tradisional, tapi kami telah menciptakan sebuah produk yang benar-benar diinginkan para tamu,” katanya. “Idenya adalah untuk memberikan yang mereka butuhkan – konektivitas, rekomendasi, kupon diskon, tiket wahana.”

After Tink Labs signed its first five-star hotel partner in 2014, the company raised multiple rounds of funding. The turning point came two years later, when Kwok raised $125 million from investors including Taiwan-based electronics giant Foxconn and investment firm Sinovation Ventures, which was founded by the former president of Google China.
Setelah Tink Labs mendapatkan mitra hotel bintang lima pertamanya di tahun 2014, perusahaan ini melakukan beberapa kali penggalangan dana. Titik baliknya muncul dua tahun kemudian ketika Kwok menggalang 125 juta dolar dari beberapa penanam modal termasuk raksasa elektronik Taiwan Foxconn dan firma investasi Sinovation Ventures yang didirikan oleh mantan presiden Google Cina.

This summer, SoftBank invested in Tink Labs’ Japanese business. The companies are aiming to add features like keyless room entry and express checkout to Handy devices.
Musim panas ini, SoftBank menanam modal di unit usaha Tink Labs di Jepang. Mereka berniat untuk menambah fitur-fitur seperti masuk kamar tanpa kartu/kunci dan cek out ekspres ke piranti Handy.

Tink Labs now has around 400 employees in 52 countries. Building the business has enabled Kwok to pursue his passion for travel.
Tink Labs kini memiliki 400 karyawan di 52 negara. Mendirikan usaha ini telah memungkinkan Kwok untuk menikmati kegemaran melancongnya.

“I am working in a field that I absolutely enjoy,” he said. “It has taken me to many different cities and countries.”
“Saya bekerja di bidang yang benar-benar saya nikmati,” katanya.” “Bisnis ini telah membawa saya ke banyak kota dan negara.”