National Geographic – Samurai Sword

LIHAT DAN DENGARKAN VIDEO 2X

1X
– Lihat dan dengarkan video TANPA menyalakan subtitle / melihat transkrip dan terjemahan
– Tujuan dari langkah ini adalah membiasakan memahami atau menebak pada pendengaran pertama
– Di dunia nyata, tidak akan ada transkrip dan terjemahan, kita harus bisa mengenali dan memahami yang diucapkan pembicara/lawan bicara

– Lakukan 2 tebakan
– #1 Tebak apakah kamu bisa mendengar / mengenali kata-kata yang diucapkan
– #2 Tebak apakah kamu tahu penulisan + paham arti kata-kata yang diucapkan

– Tidak usah khawatir jika ada kata-kata yang tidak bisa dikenali dan ada kata-kata yang tidak bisa dipahami.

2X
– Putar ulang video sembari melihat Transkrip & Terjemahan
– Periksa apakah tebakanmu tadi benar
– Kalau di pendengaran pertama ada kata-kata yang kamu TIDAK bisa kenali dan pahami, ingat-ingat penulisan + artinya.

See this?
Lihat ini?

This is a samurai, an elite Japanese warrior.
Ini adalah seorang samurai, pejuang elit Jepang.

And this is his sword, his samurai sword.
Dan ini adalah pedangnya, pedang samurainya.

Watch out!
Awas!

It’s super sharp.
Pedangnya tajam sekali.

They’ve been around for over 1,000 years, as iconic to Japanese culture as cherry trees or Mt. Fuji.
Pedang-pedang ini sudah ada selama 1.000 tahun, seikonik pohon sakura atau Gunung Fuji bagi kebudayaan Jepang.

And thanks to, of all things, a blacksmith, a potter, and an ancient scroll, you can still buy a totally 100% custom-made katana blade today.
Dan berkat, dari semua hal, seorang pandai besi, pembuat tembikar dan sebuah gulungan kuno, saat ini anda masih bisa membeli pedang katana yang 100% dibuat sesuai pesanan.

Seriously awesome.
Benar-benar keren.

So, random question– how exactly is this ancient knowledge of making iconic Japanese samurai swords still around?
Pertanyaan acak – bagaimana persisnya pengetahuan kuno tentang pembuatan pedang samurai Jepang yang ikonik masih ada?

Well, it’s a pretty incredible story of ancient scrolls, fiery forges, and the most expensive steel on the planet.
Ini adalah cerita luar biasa tentang naskah kuno, bengkel pandai besi dan baja termahal di dunia.

Let’s take a deeper look at how the sword and the scroll are linked.
Mari kita lihat secara lebih seksama bagaimana pedang dan naskah kunonya terkait.

The Shimane Prefecture in Japan is wild with plunging cliffs and volcanic islands.
Prefektur Shimane di Jepang dipenuhi tebing yang curam dan pulau vulkanis.

It’s full of sacred Shinto shrines and waterfalls, believed to bring victory to bullfighters and sumo wrestlers who drink its waters.
Di sana banyak ditemukan kuil Shinta dan air terjun, yang diyakini akan membawa kemenangan bagi matador dan pegulat sumo yang meminum airnya.

And sometimes, its rivers run red, blood red.
Dan terkadang, sungainya berwarna merah, merah darah.

But not with blood.
Tapi bukan karena darah.

That’s disgusting.
Itu menjijikkan.

With iron deposits.
Tapi karena deposit besi.

And that’s how the blacksmith made a living in this region.
Itulah mata pencaharian pandai besi di area tersebut.

He smelted that iron into steel until he and his buddy, the potter, found an ancient scroll.
Dia melebur besi itu menjadi baja hingga dia dan rekannya, sang pembuat tembikar, menemukan sebuah naskah kuno.

That taught them how to make– drum roll please–samurai swords.
Yang mengajarkan mereka cara membuat — tolong genderang drumnya — pedang samurai.

Total job upgrade.
Sebuah peningkatan pekerjaan.

Nowadays, there are only about 200 traditional swordsmiths left in Japan.
Saat ini, hanya ada sekitar 200 pembuat pedang tradisional yang tersisa di Jepang.

Shunji Kobayashi is one of them, thanks to his grandfather, the blacksmith.
Shunji Kobayashi adalah salah satunya, berkat kakeknya, sang pandai besi.

So why is his craft disappearing?
Jadi mengapa kerajinan ini menghilang?

Never mind that society and warfare have totally changed.
Tidak perlu memandang bahwa masyarakat dan peperangan telah berganti secara drastis.

Making real swords is a long process, and they’ll cost you upwards of $25,000 a pop.
Pembuatan pedang asli adalah sebuah proses yang lama dan menelan biaya di atas 25.000 dolar per perdang.

But remember those iron deposits?
Tapi ingat deposit besi itu?

That iron sand is put into it tatara, or a clay tub furnace.
Pasir besi itu dimasukkan ke dalam tatara, atau tungku bak tanah liat.

This is the only one left in Japan.
Inilah satu-satunya yang tersisa di Jepang.

It’s heated, mixed with charcoal to add carbon, and voila!
Besinya dipanaskan, dicampur dengan arang untuk menambahkan karbon, dan abrakadabra!

Steel.
Baja.

Tamahagane steel, the most expensive steel in the world.
Baja tamahagane, baja paling mahal di seluruh dunia.

And that curved shape comes from layering two kinds of steel and submerging that red hot, fresh from the forge sword directly into the water.
Dan bentuk melengkung itu terbentuk dari melapisi dua jenis baja dan merendam pedang yang masih merah membara dari tempat penempaan langsung ke dalam air.

Contracting metals bend inward to form that lethal, legendary blade.
Besi yang berkontraksi melengkung ke dalam untuk membentuk bilah legendaris yang mematikan itu.

And when you’re holding one, you’re holding a millennium’s worth of trade secrets.
Dan jika anda memegangnya, anda memegang rahasia seribu tahun di tangan anda.

No pressure there, Shunji.
Tidak usah cemas, Shunji.

Shunji Kobayashi says it takes six months just to make one sword, and it takes five years of training just to polish a katana properly.
Shunji Kobayashi mengatakan bahwa butuh waktu enam bulan untuk membuat satu pedang, dan butuh waktu latihan lima tahun hanya untuk menggosok sebuah katana secara benar.

The whole swordsmithing thing requires patience and attention to detail, much like the samurai themselves, which is why the katana is known as the soul of the samurai.
Semua hal terkaitan pembuatan pedang ini memerlukan kesabaran dan perhatian pada detil, sama seperti pejuang samurai itu sendiri, itulah mengapa katana dikenal sebagai jiwa dari seorang samurai.

But that’s not the whole story.
Tapi itu bukan cerita selengkapnya.

For more on the sword and the scroll, watch “Explorer” on National Geographic.
Untuk cerita lebih banyak tentang pedang dan naskahnya, saksikan “Explorer” di National Geographic.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.

Fitur ini hanya bisa diakses Premium Member.
Untuk bergabung menjadi Premium Member, klik di sini.