Mom Number Two

TERJEMAHAN

I was eleven when my mom divorced my stepdad.
Usiaku sebelas tahun ketika ibuk menceraikan ayah tiriku.

She had four kids at the time.
Dia punya empat anak waktu itu.

I remember we were in the bedroom, and she said to me: ‘You’re the oldest so I’m going to need your help.’
Aku ingat kami sedang berada di kamar tidur dan Ibu berkata padaku: “Kamu anak yang paling tua jadi aku butuh bantuanmu.”

And ever since then I’ve been ‘Mom Number Two.’
Dan sejak saat itu aku menjadi “Ibu Nomer Dua.”

I picked my little brothers up from school.
Aku menjemput adik-adikku dari sekolah.

I cooked for them.
Aku memasak untuk mereka.

I made sure they did their homework.
Aku pastikan mereka mengerjakan pekerjaan rumah mereka.

I met with their teachers.
Aku bertemu dengan guru-guru mereka.

I’d be the authority figure until mom came home from work.
Aku akan menjadi sosok otoritas sampai Ibu pulang dari kerja.

I was always the responsible one.
Aku adalah anak yang selalu bertanggung jawab.

Nobody ever had to worry about me.
Tidak ada yang perlu mencemaskanku.

But now I’m twenty and my whole life has been about my little brothers.
Tapi sekarang usiaku dua puluh tahun dan seluruh hidupku sudah kudedikasikan untuk adik-adikku.

I’ve never really felt the security to figure myself out.
Aku tidak pernah merasakan aman menentukan jati diriku.

But today is orientation at my new college.
Tapi hari ini adalah orientasi di kampus baruku.

I just finished meeting with my advisor.
Aku baru saja selesai bertemu dengan penasihatku.

There are so many clubs and organizations that I can join.
Begitu banyak klub dan organisasi yang bisa aku ikuti.

I want to meet a lot of different people.
Aku ingin bertemu orang-orang yang berbeda.

I want to be more outspoken.
Aku ingin lebih percaya diri.

I feel like this is my chance to learn who I am.
Aku rasa inilah kesempatanku untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya.