Jack Dorsey, Founder of Twitter

SUMBER BERITA
https://www.biography.com/people/jack-dorsey-578280

TIPS BELAJAR
1. Baca konten berita di atas.
2. Baca terjemahan dari konten berita.
3. Dengarkan audio dari konten berita.
4. Dengarkan lagi audio dari konten berita sampai kamu mengerti pengucapan setiap kata.
5. Tirukan audio pengucapan konten berita.

TERJEMAHAN
Jack Dorsey is an American businessman best known as the founder of the social networking site Twitter.
Jack Dorsey adalah seorang pebisnis Amerika Serikat yang lebih dikenal sebagai pendiri aplikasi jaringan sosial Twitter

Synopsis
Ringkasan

Born in St. Louis, Missouri, on November 19, 1976, Jack Dorsey became involved in web development as a college student, founding the Twitter social networking site in 2006. Since that time, Dorsey has served as CEO, chairman of the board, and executive chairman of Twitter. He also launched the successful online payment platform Square in 2010.
Lahir di kota Saint Loius, negara bagian Missouri pada tanggal 19 November 1976, Jack Dorsey mulai terlibat di bidang pengembangan website ketika masih kuliah, mendirikan website jaringan sosial Twitter pada tahun 2006. Sejak saat itu, Dorsey bertindak sebagai Direktur Utama, Komisaris Utama dan Ketua Eksekutif Twitter. Dia juga meluncurkan platform pembayaran daring Square pada tahun 2010.

Early Life
Tahap Awal

Inventor of Twitter Jack Dorsey was born in St. Louis, Missouri, on November 19, 1976. Growing up in St. Louis, Dorsey became interested in computers and communications at an early age and began programming while still a student at Bishop DuBourg High School. He was fascinated by the technological challenge of coordinating taxi drivers, delivery vans and other fleets of vehicles that needed to remain in constant, real-time communication with one another. When he was 15, Dorsey wrote dispatch software that is still used by some taxicab companies today.
Jack Dorsey sang pendiri Twitter lahir di kota Saint Loius, negara bagian Missouri pada tanggal 19 Nove,ber 1976. Tumbuh di Saint Louis, Dorsey tertarik pada komputer dan komunikasi sejak masih kecil dan mulai melakukan pemrograman ketika masih bersekolah di Bishop DuBourg High School (setara dengan Sekolah Menengah Pertama). Dia tertarik pada tantangan teknologis dalam mengkoordinasikan sopir taksi, van penghantaran barang dan armada lain yang perlu berada dalam komunikasi yang konstan dan langsung satu sama lain. Ketika berusia 15 tahun, Dorsey menciptakan software pengiriman yang masih digunakan beberapa perusahan taksi saat ini.

Creation of Twitter
Penciptaan Twitter

After a brief stint at the Missouri University of Science and Technology, Dorsey transferred to New York University. In the tradition of computer science entrepreneurs such as Bill Gates, Steve Jobs and Mark Zuckerberg, he dropped out of college before receiving his degree. Instead, Dorsey moved to Oakland, California, and in 2000 started a company offering his dispatch software through the Web. Shortly after starting his company, Dorsey came up with the idea for a site that would combine the broad reach of dispatch software with the ease of instant messaging.
Setelah kuliah secara singkat di Missouri University of Science and Technology, Dorsey pindah ke New York University. Mengikuti tradisi wirausahawan komputer seperti Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg, dia berhenti kuliah sebelum menyelesaikan pendidikannya. Sebagai gantinya, Dorsey pindah ke kota Oakland, negara bagian California, dan pada tahun 2000 memulai sebuah perusahaan yang menawarkan software pengirimannya melalui internet. Sesaat setelah memulai perusahaannya, Dorsey muncul dengan ide untuk sebuah website yang akan menggabungkan jangkauan luas software pengiriman dengan kenyamanan pesan langsung.

Dorsey approached a now-defunct Silicon Valley company called Odeo to pitch the concept. “He came to us with this idea: ‘What if you could share your status with all your friends really easily, so they know what you’re doing?'” said Biz Stone, a former Odeo executive. Dorsey, Stone and Odeo co-founder Evan Williams started a new company, called Obvious, which later evolved into Twitter. Within two weeks, Dorsey had built a simple site where users could instantly post short messages of 140 characters or less, known in Twitter parlance as “tweets.”
Dorsey mendekati perusahaan Silicon Valley yang saat ini sudah tutup bernama Odeo untuk menawarkan konsepnya. “Dia datang kepada kami dengan ide ini: ‘Bagaimana jika kamu bisa membagikan statusmu kepada semua temanmu dengan sangat mudah, sehingga mereka tahu apa yang kamu lakukan?”, kata Biz Stone, seorang mantan eksekutif Odeo. Dorsey, Stone dan pendiri Odeo Evan Williams mendirikan sebuah perusahaan bernama Obvious, yang kemudian berevolusi menjadi Twitter. Dalam waktu dua minggu, Dorsey telah membangun sebuah website sederhana di mana pengguna dapat secara seketika menuliskan pesan singkat sepanjang 140 karakter atau kurang, yang dikenal di jargon Twitter sebagai ‘twit’.

On March 21, 2006, Jack Dorsey posted the world’s first tweet: “just setting up my twttr.” Dorsey was named the company’s chief executive officer. He removed his nose ring in an attempt to look the part of a mature Silicon Valley executive, though he kept his boyish, mop-like haircut and abstract, forearm-length tattoo whose shape represented, among other things, the human clavicle bone. Co-founder Evan Williams replaced Dorsey as Twitter’s CEO in October 2008, with Dorsey staying on as company chairman.
Pada tanggal 21 Maret 2006, Jack Dorsey menuliskan twit yang paling pertama di dunia: “hanya menyiapkan twttr-ku”. Dorsey ditunjuk sebagai Direktur Utama Twitter. Dia melepas cincin hidungnya sebagai usaha supaya terlihat seperti eksekutif Silicon Valley yang dewasa, meskipun tetap membiarkan potongan rambut kekanak-kanakannya yang seperti kain pel dan tato abstrak sepanjang lengannya yang salah satunya berbentuk tulang selangka. Pendiri lain Twitter Evan Williams menggantikan Dorsey sebagai Direktur Utama pada bulan Oktober 2008 dan Dorsey bertahan sebagai Komisaris Utama.

Twitter Success
Kesuksesan Twitter

Twitter was initially derided by some as a tool for the shallow and self-centered to broadcast the minutiae of their lives to the universe. Late-night comedy host Conan O’Brien even featured a segment called “Twitter Tracker” that mocked users of the service. In its early days, the site also suffered from frequent service outages. But as celebrities and CEOs alike began tweeting, Twitter was no longer the brunt of so many jokes. Suddenly the head of the “microblogging” movement, Twitter became a powerful platform for U.S. Presidential candidates Barack Obama and John McCain in 2008, as a method for updating their supporters while on the campaign trail.
Twitter pada awalnya diejek oleh sebagian orang sebagai alat untuk orang yang dangkal dan egois untuk memberitakan setiap detail kehidupan mereka ke alam semesta. Pembawa acara komedi tengah malam Connan O’Brien bahkan menampilkan segmen bernama “Twitter Tracker” (Pelacak Twitter) yang mengejek pengguna layanan itu. Pada masa awal berdirinya, Twitter juga sering mengalami kondisi offline. Tapi begitu selebriti dan Direktur Utama mulai menge-twit, Twitter tidak lagi menjadi sumber lelucon. Tiba-tiba menjadi pemimpin gerakan microblogging, Twitter menjadi platfrom yang kuat bagi kandidat presiden Amerika Serikat Barack Obama dan John McCain pada tahun 2008, sebagai cara memberikan update kepada pendukung mereka pada masa kampanye.

Twitter vaulted to international prominence after the June 2009 presidential elections in Iran, when thousands of opposition supporters took to the streets to protest the claimed victory of incumbent Mahmoud Ahmadinejad. When the government blocked text messaging and satellite feeds of foreign news coverage, Iranian Twitter users flooded the site with live updates. A U.S. State Department official even emailed Dorsey to request that Twitter delay its scheduled maintenance so that protestors could keep tweeting. “It appears Twitter is playing an important role at a crucial time in Iran. Could you keep it going?” said a State Department spokesman, describing the call. Twitter complied.
Twitter menjadi terkenal secara internasional setelah pemilihan presiden Iran Juni 2009, di mana ribuan pendukung oposisi turun ke jalan untuk memprotes kemenangan yang diklaim oleh petahana Mahmoud Ahmadinejad. Ketika pemerintah mem-blok layanan pesan teks dan suplai satelit liputan berita luar negeri, pengguna Twitter Iran membanjiri website/aplikasi itu dengan update langsung. Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Amerika Serikat bahkan mengirimkan email kepada Dorsey untuk meminta Twitter menunda pemeliharaan sistem yang sudah dijadwalkan supaya para pengunjuk rasa bisa terus menge-twit. “Sepertinya Twitter memainkan peran yang pernting di saat krusial di Iran. Bisakah nada tetap melanjutkannya?” kata seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri ketika menjelaskan pembicaraan telpon itu. Twitter pun menurutinya.

Beyond Twitter
Setelah Twitter

In 2010, Twitter had more than 105 million users who together tweeted some 55 million times a day. Dorsey, however, had set his sights on other projects. He became an investor in the social networking company Foursquare and launched a new venture, Square, which allows people to receive credit card payments through a tiny device plugged in to their mobile phone or computer. Twitter may have already revolutionized the way that people communicate, but Dorsey isn’t done yet. “In terms of technology, we’re going to see a better and more immediate experience around the everyday things we do in life,” Dorsey said.
Pada tahun 2010, Twitter memiliki lebih dari 105 juta pengguna yang secara keseluruhan menge-twit 55 juta kali per hari. Meskipun demikian, Dorsey, telah mengarahkan perhatiannya untuk proyek lain. Dia menjadi penanam modal di perusahaan jaringan sosial Foursquare dan meluncurkan usaha baru, Square, yang memungkinkan orang untuk menerima pembayaran kartu kredit melalui piranti kecil yang dihubungkan ke telepon genggam mereka atau komputer. Twitter mungkin telah merevolusi cara orang berkomunikasi, tapi Dorsey belum selesai. “Dalam teknolgi, kita akan melihat pengalaman seputar hal-hal yang kita lakukan tiap hari yang lebih baik dan lebih cepat,” kata Dorsey.

Billionaire Businessman
Pengusaha Miliarder

In November 2013, Dorsey saw his personal fortune grow tremendously thanks to Twitter’s initial public offering. The company’s stock had a starting share price of $26, but the price quickly rose to $45 during its first day of trading. Within hours, the value of Dorsey’s approximately 23.4 million shares made him a billionaire. He already began discussing the possibility of an IPO for his other company, Square, in 2014.
Pada bulan November 2013, Dorsey menyaksikan harta pribadinya meningkat secara tajam berkat penawaran saham perdana Twitter. Saham Twitter memiliki nilai awal 26 dolar, tapi dengan cepat meningkat ke 45 dolar di hari pertama penawaran. Dalam hitungan jam, nilai 23,4 juta saham Dorsey telah menjadikannya milairder. Dia sudah mulai mendiskusikan kemungkinan penawaran saham awal untuk perusahaannya yang lain, Square, pada tahun 2014.

In 2015, Dorsey returned to Twitter. He first served as an interim CEO and then became its CEO. Not long after he officially took the company’s top spot, he announced that the company would be cutting about 8% of its workforce. This move is “part of an overall plan to organize around the company’s top product priorities and drive efficiencies throughout the company,” according a securities filing by Twitter reported in the Los Angeles Times.
Pada tahun 2015, Dorsey kembali ke Twitter. Awalnya dia menjabat sebagai Direktur Utama sementara dan akhirnya menjadi Direktur Utama tetap. Tidak lama setelah dia secara resmi mengambil posisi puncak perusahaan, dia mengumumkan bahwa perusahaan akan memangkas 8 % dari total karyawannya. Langkah ini adalah “bagian dari rencana keseluruhan untuk mengelola dengan fokus prioritas produk unggulan perusahaan dan menjalankan efisiensi ke seluruh bagian perusahaan,” menurut laporan sekuritas oleh Twitter yang dilaporkan oleh Los Angeles Times.