How to learn any language in six months 3

TRANSKRIP + TERJEMAHAN

The people in the back, can you hear me clearly?
Yang duduk di belakang, kalian bisa mendengar saya dengan jelas?

OK, good.
Ok, baik.

Have you ever held a question in mind for so long that it becomes part of how you think?
Apa kamu pernah punya pertanyaan di kepalamu begitu lama hingga itu menjadi bagian dari bagaimana kamu berpikir?

Maybe even part of who you are as a person?
Bahkan mungkin bagian dari diri kamu?

Well I’ve had a question in my mind for many, many years and that is: How can you speed up learning?
Saya punya sebuah pertanyaan yang ada di benak saya selama bertahun-tahun dan pertanyaan itu adalah: Bagaimana anda bisa mempercepat proses belajar?

Now, this is an interesting question because if you speed up learning, you can spend less time at school.
Ini adalah pertanyaan yang menarik karena jika kamu bisa mempercepat proses belajar, kamu bisa menghabiskan lebih sedikit waktu di sekolah.

And if you learn really fast, you probably wouldn’t have to go to school at all.
Dan kalau kamu belajar begitu cepat, kamu mungkin bahkan tidak perlu belajar di sekolah sama sekali.

Now, when I was young, school was sort of OK but…
Ketika saya muda, sekolah bagi saya biasa-biasa saja, tapi…

I found quite often that school got in the way of learning so I had this question in mind: How do you learn faster?
Saya merasa seringkali sekolah menjadi penghambat belajar saya lalu saya punya pertanyaan seperti ini di pikiran saya: Bagaimana kamu belajar lebih cepat?

And this began when I was very, very young, when I was 11 years old,
Dan ini bermula ketika saya masih sangat sangat muda, ketika saya berumur 11 tahun.

I wrote a letter to researchers in the Soviet Union, asking about hypnopaedia, this is sleep-learning, where you get a tape recorder, you put it beside your bed and it turns on in the middle of the night when you’re sleeping, and you’re supposed to be learning from this.
Saya menulis kepada peneliti di Uni Soviet menanyakan tentang hypnopaedia, ini adalah metode belajar ketika tidur, di mana kamu menggunakan tape, meletakkannya di samping tempat tidurmu dan ia menyala di tengah malam ketika kamu sedang tidur dan kamu seharusnya melakukan proses belajar dari alat ini.

A good idea, unfortunately it doesn’t work.
Ide yang bagus, sayangnya tidak berhasil.

But, hypnopaedia did open the doors to research in other areas and we’ve had incredible discoveries about learning that began with that first question.
Tapi hypnopaedia membuka pintu bagi penelitian di area lain dan kami mendapatkan penemuan luar biasa mengenai proses belajar yang bermula dari pertanyaan pertama tadi.

I went on from there to become passionate about psychology and I have been involved in psychology in many different ways for the rest of my life up until this point.
Sejak saat itu saya menjadi antusias tentang psikologi dan saya sudah berkecimpung di dalam psikologi di berbagai cara seumur hidup saya sampai saat ini.

In 1981, I took myself to China and I decided that I was going to be native level in Chinese inside two years.
Pada tahun 1981, saya pergi ke China dan memutuskan bahwa saya akan lancar berbahasa China dalam dua tahun.

Now, you need to understand that in 1981, everybody thought Chinese was really, really difficult and that a Westerner could study for 10 years or more and never really get very good at it.
Kamu perlu memahami bahwa di tahun 1981, semua orang mengira bahasa China benar-benar sulit dan seorang bule bisa mempelajarinya selama 10 tahun atau lebih dan tidak akan pernah bisa mahir dalam menguasainya.

And I also went in with a different idea which was: taking all of the conclusions from psychological research up to that point and applying them to the learning process.
Saya mencoba dengan ide yang berbeda yaitu: mengambil semua kesimpulan dari penelitian psikologis hingga saat itu dan menerapkannya pada proses belajar.

What was really cool was that in six months I was fluent in Mandarin Chinese and it took a little bit longer to get up to native.
Kerennya adalah dalam waktu enam bulan saya sudah lancar berbahasa China Mandarin dan makan sedikit lebih banyak waktu untuk meraih tingkat penutur asli (native speaker)

But I looked around and I saw all of these people from different countries struggling terribly with Chinese,
Tapi saya melihat di sekeliling saya dan saya menyaksikan orang-orang dari negara-negara yang berbeda sangat kesusahan dalam mempelajari bahasa Chinese.

I saw Chinese people struggling terribly to learn English and other languages, and so my question got refined down to:
Saya melihat orang-orang China sangat kesusahan dalam mempelajari bahasa Inggris dan bahasa lainnya dan pertanyaan saya mengerucut menjadi:

How can you help a normal adult learn a new language quickly, easily and effectively?
Bagaimana kamu membantu orang dewasa mempelajari sebuah bahasa baru dengan lebih cepat, lebih mudah dan lebih efektif?

Now this is a really, really important question in today’s world.
Ini adalah sebuah pertanyaan yang benar-benar penting saat ini.

We have massive challenges with environment,
Kita memiliki tantangan yang luar biasa di bidang lingkungan

we have massive challenges with social dislocation, with wars, all sorts of things going on and if we can’t communicate, we’re really going to have difficulty solving these problems.
kita memiliki tantangan luar biasa di bidang dislokasi sosial, dengan perang, segala hal yang sedang terjadi dan jika kita tidak bisa berkomunikasi, kita akan memiliki kesulitan memecahkan masalah-masalah ini.

So we need to be able to speak each other’s languages, this is really, really important.
Jadi kita perlu mampu berbicara dengan bahasa satu sama lain, ini benar-benar penting.

The question then is: How do you do that?
Pertanyaannya kemudian adalah: Bagaimana kamu melakukannya?

Well, it’s actually really easy.
Sebenarnya cukup mudah.

You look around for people who can already do it, you look for situations where it’s already working and then you identify the principles and apply them.
Kamu melihat dari sekitarmu orang yang sudah bisa melakukannya, kamu mencari situasi di mana sudah berhasil dilakukan lalu kamu mengidentifikasi prinsip-prinsipnya dan menerapkannya.

It’s called modelling and I’ve been looking at language learning and modelling language learning for about 15 to 20 years now.
Itu dinamakan dengan modeling dan saya sudah berkecimpung di bidang pembelajaran bahasa dan modeling pembelajaran bahasa selama 15-20 tahun hingga saat ini.

And my conclusion, my observation from this is that any adult can learn a second language to fluency inside six months.
Dan kesimpulan saya, pengamatan saya adalah setiap orang dewasa bisa mempelajari bahasa asing hingga lancar dalam waktu enam bulan.

Now when I say this, most people think I’m crazy, this is not possible.
Ketika saya mengatakan ini, kebanyakan orang berkata saya gila, ini tidak mungkin.

So let me remind everybody of the history of human progress, it’s all about expanding our limits.
Ijinkan saya mengingatkan semua orang tentang sejarah kemajuan manusia, semuanya tentang meluaskan batas-batas kita.

In 1950, everybody believed that running one mile in four minutes was impossible, and then Roger Bannister did it in 1956 and from there it’s got shorter and shorter.
Di tahun 1950, semua orang percaya bahwa berlari satu mil dalam empat menit itu mustahil, lalu Roger Banister melakukannya di tahun 1956 dan sejak saat itu rekornya menjadi semakin singkat.

100 years ago everybody believed that heavy stuff doesn’t fly.
100 tahun yang lalu, semua orang percaya bahwa benda yang berat tidak bisa terbang.

Except it does and we all know this.
Hanya saja, itu bisa dan kita semua mengetahuinya.

How does heavy stuff fly?
Bagaimana benda berat terbang?

We reorganise the material using principles that we have learned from observing nature, birds in this case.
Kita menata ulang bahan-bahan menggunakan prinsip yang kita pelajari dari mengamati alam, dalam hal ini burung.

And today we’ve gone even further…
Dan saat ini kita bahkan sudah lebih maju..

We’ve gone even further, so you can fly a car.
Kita sudah lebih maju, kamu bisa menerbangkan mobil.

You can buy one of these for a couple 100.000 US dollars.
Kamu bisa membeli mobil seperti ini dengan harga sekitar 100.000 dolar Amerika.

We now have cars in the world that fly.
Kita sekarang memiliki mobil yang bisa terbang.

And there’s a different way to fly which we’ve learned from squirrels.
Dan ada cara tebang lain yang kita pelajari dari tupai.

So all you need to do is copy what a flying squirrel does, build a suit called a wing suit and off you go, you can fly like a squirrel.
Jadi yang kamu perlu lakukan adalah meniru apa yang dilakukan tupai terbang, menciptakan baju bernama baju sayap dan kamu bisa terbang seperti tupai.

Now most people, a lot of people, I wouldn’t say everybody but a lot of people think they can’t draw.
Sebagian besar orang, banyak orang, saya tidak bilang semuanya tapi banyak orang berpikir mereka tidak bisa menggambar.

However there are some key principles, five principles, that you can apply to learning to draw and you can actually learn to draw in five days.
Tapi ada lima prinsip, lima prinsip, yang bisa kamu terapkan untuk belajar menggambar dan kamu sebenarnya bisa belajar menggambar dalam lima hari.

So, if you draw like this, you learn these principles for five days and apply them and after five days you can draw something like this.
Jadi, jika kamu menggambar seperti ini, kamu mempelajari prinsip-prinsip ini selama lima hari dan menerapkannya dan setelah lima hari kamu bisa menggambar seperti ini.

Now I know this is true because that was my first drawing and after five days of applying these principles that was what I was able to do.
Saya tahu ini benar karena itu adalah gambar pertama saya dan setelah lima hari menerapkan prinsip-prinsip ini itulah yang bisa saya lakukan.

And I looked at this and I went:
Saya melihat ini dan berkata:

“Wow, so that’s how I look like when I’m concentrating so intensely that my brain is exploding.”
“Wow, jadi inilah hasilnya ketika aku berkonsentrasi dengan begitu intens otakku sampai meledak.”

So, anybody can learn to draw in five days and in the same way, with the same logic, anybody can learn a second language in six months.
Jadi, setiap orang bisa menggambar dalam lima hari dan dengan langkah yang sama, dengan logika yang sama, semua orang bisa mempelajaro bahasa asing dalam enam bulan.

How?
Bagaimana caranya?

There are five principles and seven actions.
Ada lima prinsip dan tujuh tindakan.

There may be a few more but these are absolutely core.
Mungkin ada beberapa lagi tapi ini adalah intinya.

And before I get into those I just want to talk about two myths.
Dan sebelum membahas itu saya ingin membicarakan tentang dua mitos.

I want to dispel two myths.
Saya ingin menyangkal dua mitos.

The first is that you need talent.
Yang pertama adalah kamu perlu bakat.

Let me tell you about Zoe.
Saya akan bercerita tentang Zoe.

Zoe came from Australia, went to Holland, was trying to learn Dutch, struggling extremely, extremely… a great deal and finally people were saying: “You’re completely useless,” “you’re not talented,” “give up,” “you’re a waste of time” and she was very, very depressed.
Zoe berasal dari Australi, pergi ke Belanda, mencoba untuk belajar bahasa Belanda, sangat sangat berusaha keras dan akhirnya orang-orang berkat: “Kamu benar-benar tidak berguna,” “kamu tidak berbakat,” “menyerahlah”, “kamu adalah waktu yang sia-sia” dan dia sangat-sangat stres.

And then she came across these five principles, she moved to Brazil and she applied them and in six months she was fluent in Portuguese, so talent doesn’t matter.
Dia menemukan lima prinsip ini, pindah ke Brazil, menerapkan prinsip-prinsip itu dan dalam enam bulan dia sudah lancar berbahasa Portugis, jadi bakat tidak tidak penting.

People also think that immersion in a new country is the way to learn a language.
Orang-orang juga berpikir bahwa tinggal di negara baru adalah cara mempelajari sebuah bahasa.

But look around Hong Kong, look at all the westerners who’ve been here for 10 years, who don’t speak a word of Chinese.
Tapi lihatlah di seputar Hong Kong, lihatlah para bule yang sudah di sini selama 10 tahun yang tidak bisa mengucapkan sepatah kata dalam bahasa China.

Look at all the Chinese living in America, Britain, Australia, Canada have been there 10, 20 years and they don’t speak any English.
Lihatlah para warga China yang tinggal di Amerika, Inggris, Australi,Kanada yang telah berada di sana selama 10, 20 tahun dan mereka tidak bisa berbicara bahasa Inggris sama sekali.

Immersion per se does not work.
Hanya tinggal di negara lain saja tidak akan berhasil.

Why?
Mengapa?

Because a drowning man cannot learn to swim.
Karena orang yang tenggelam tidak bisa belajar berenang.

When you don’t speak a language, you’re like a baby.
Ketika kamu tidak bisa berbicara satu bahasa, kamu seperti seorang bayi.

And if you drop yourself into a context which is all adults talking about stuff over your head, you won’t learn.
Dan jika kamu berada di sebuah situasi di mana semua orang berbicara tentang hal-hal yang tidak kamu pahami, kamu tidak akan belajar.

So, what are the five principles that you need to pay attention to?
Jadi, apa lima prinsip yang perlu kamu perhatikan?

First: the four words, attention, meaning, relevance and memory, and these interconnect in very, very important ways.
Pertama: empat kata, perhatian, arti, relevansi dan ingatan, dan empat kata ini saling terhubung dengan sangat penting.

Especially when you’re talking about learning.
Terlebih ketika kamu berbicara tentang proses belajar.

Come with me on a journey through a forest.
Ikutlah dengan saya dalam sebuah perjalanan melewati sebuah hutan.

You go on a walk through a forest and you see something like this…
Kamu berjalan melalui hutan dan melihat sesuatu seperti ini…

Little marks on a tree, maybe you pay attention, maybe you don’t.
Tanda-tanda kecil di pohon, mungkin kamu perhatikan, mungkin tidak.

You go another 50 metres and you see this…
Kamu berjalan 50 meter ke depan dan kamu melihat ini..

You should be paying attention.
Kamu harus memperhatikan.

Another 50 metres, if you haven’t been paying attention, you see this…
50 meter lagi di depan, jika kamu tidak memperhatikan, kamu akan melihat ini…

And at this point, you’re paying attention.
Dan titik ini, kamu memperhatikan dengan serius..

And you’ve just learned that this… is important, it’s relevant because it means this, and anything that is related, any information related to your survival is stuff that you’re going to pay attention to and therefore you’re going to remember it.
Dan kamu baru saja belajar bahwa ini… penting, ini relevan karena ini artinya ini, dan semuanya yang berkaitan, semua informasi terkait bagaimana kamu bertahan adalah hal yang akan kamu perhatikan dan oleh sebab itu kamu akan mengingatnya.

If it’s related to your personal goals, then you’re going to pay attention to it.
Jika itu berkaitan dengan tujuan pribadimu, maka kamu akan memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

If it’s relevant, you’re going to remember it.
Jika itu relevan, kamu akan mengingatnya.

So, the first rule, first principle for learning a language is focus on language content that is relevant to you.
Jadi, aturan pertama, prinsip pertama untuk mempelajari sebuah bahasa adalah fokus ke konten bahasa yang relevan bagimu.

Which brings us to tools.
Yang membawa kita ke peralatan.

We master tools by using tools and we learn tools the fastest when they are relevant to us.
Kita menguasai peralatan dengan menggunakannya dan kita belajar menggunakan alat dengan lebih cepat jika relevan terhadap kita.

So let me share a story.
Ijinkan saya berbagi sebuah cerita.

A keyboard is a tool.
Sebuah keyboard adalah sebuah alat.

Typing Chinese a certain way, there are methods for this.
Mengetik huruf China dengan cara tertentu, ada metode khusus untuk ini.

That’s a tool.
Itulah alat.

I had a colleague many years ago who went to night school; Tuesday night, Thursday night, two hours each time, practicing at home, she spent nine months, and she did not learn to type Chinese.
Saya punya seorang kolega bertahun-tahun yang lalu yang mengikuti kelas malam, Selasa malam, Kamis malam, setiap kelas dua jam, berlatih di rumah, dia belajar selama sembilan bulan dan dia tidak belajar untuk mengetik karakter China.

And one night we had a crisis.
Satu malam kami dilanda sebuah krisis.

We had 48 hours to deliver a training manual in Chinese.
Kami memiliki waktu 48 jam untuk menyajikan sebuah manual pelatihan dalam bahasa China.

And she got the job, and I can guarantee you in 48 hours, she learned to type Chinese because it was relevant, it was meaningful, it was important, she was using a tool to create value.
Dia mendapatkan pekerjaan itu dan saya jamin dalam 48 jam, dia belajar mengetik karakter China karena itu relevan, berarti, penting, dia menggunakan alat untuk menciptakan nilai.

So the second principle for learning a language is to use your language as a tool to communicate right from day one.
Prinsip kedua mempelajari sebuah bahasa adalah menggunakan bahasamu sebagai alat komunikasi sejak hari pertama.

As a kid does.
Seperti anak-anak.

When I first arrived in China, I didn’t speak a word of Chinese, and on my second week, I got to take a train ride overnight.
Ketika saya pertama kali tiba di China, saya tidak bisa berbicara sepatah katapun dalam bahasa China, dalam di minggu kedua, saya perlu naik kereta malam.

I spent eight hours sitting in the dining car talking to one of the guards on the train, he took an interest in me for some reason, and we just chatted all night in Chinese and he was drawing pictures and making movements with his hands and facial expressions and piece by piece by piece I understood more and more.
Saya menghabiskan delapan jam duduk di gerbong makan berbicara dengan salah satu penjaga kereta, entah kenapa dia suka berbicara pada saya, dan kami ngobrol semalam suntuk dalam bahasa China dan dia menggambar dan menggunakan gerakan tangan dan ekspresi wajah dan saya paham sedikit demi sedikit .

But what was really cool, was two weeks later, when people were talking Chinese around me,I was understanding some of this and I hadn’t even made any effort to learn that.
Kerennya, dua minggu kemudian, ketika orang-orang berbicara dalam bahasa China di sekitar saya, saya memahami beberapa dari percakapan orang-orang itu dan saya bahkan tidak mengeluarkan usaha untuk mempelajarinya.

What had happened, I’d absorbed it that night on the train, which brings us to the third principle.
Yang terjadi adalah, saya menyerapnya malam itu ketika berada di kereta api, yang membawa kita ke prinsip yang ketiga.

When you first understand the message, then you will acquire the language unconsciously.
Ketika kamu pertama memahami pesan yang ingin disampaikan, kamu mempelajari bahasa itu secara tidak sadar.

And this is really, really well documented now, it’s something called comprehensible input.
Dan ini didokumentasikan dengan bagus, inilah yang disebut dengan comprehensible input (input yang bisa dimengerti)

There’s 20 or 30 years of research on this,
Sudah ada 20 atau 30 tahun penelitian tentang ini.

Stephen Krashen, a leader in the field, has published all sorts of these different studies and this is just from one of them.
Stephen Krashen, pemimpin di bidang ini, telah mempublikasikan berbagai macam kajian dan ini salah satu dari kajian itu.

The purple bars show the scores on different tests for language.
Kotak ungu menunjukkan nilai tes untuk bahasa yang berbeda-beda.

The purple people were people who had learned by grammar and formal study, the green ones are the ones who learned by comprehensible input.
Orang (yang dilambangkan dengan warna) ungu adalah orang yang telah mempelajari tata bahasa dan studi formal, yang hijau adalah orang yang belajar melalui comprehensible input.

So, comprehension works.
Jadi, metode pemahaman berhasil.

Comprehension is key and language learning is not about accumulating lots of knowledge.
Pemahaman adalah kunci dan belajar bahasa bukanlah tentang mengakumulasi banyak pengetahuan.

In many, many ways it’s about physiological training.
Dalam banyak hal, ini adalah tentang latihan fisiologi (yang berkaitan dengan fisik / anggota tubuh)

A woman I know from Taiwan did great in English at school, she got A grades all the way through, went through college, A grades, went to the US and found she couldn’t understand what people were saying.
Seorang wanita yang saya kenal dari Taiwan pandai dalam mata pelajaran Inggris di sekolah, nilainya A semua, ketika dia kuliah, nilainya A semua, lalu pergi ke Amerika dan mendapati dia tidak bisa memahami apa yang dikatakan orang-orang Amerika.

And people started asking her: “Are you deaf?”
Dan orang-orang mulai bertanya padanya, “Apa kamu tuli?”

And she was. English deaf.
Dia tuli. Tuli bahasa Inggris.

Because we have filters in our brain that filter in the sounds that we are familiar with and they filter out the sounds of languages that we’re not.
Karena kita memiliki filter di otak kita yang menyaring suara yang kita kenali dan mereka membuang suara bahasa yang tidak kita kenali.

And if you can’t hear it, you won’t understand it, if you can’t understand it, you’re not going to learn it.
Jika kamu tidak bisa mendengarnya, kamu tidak bisa memahaminya, jika kamu tidak bisa memahaminya, kamu tidak akan bisa mempelajarinya.

So you actually have to be able to hear these sounds.
Jadi kamu sebenarnya harus bisa mendengarkan suara-suara itu.

And there are ways to do that but it’s physiological training.
Dan ada cara untuk mempelajari itu tapi semuanya adalah latihan fisiologi.

Speaking takes muscle.
Berbicara memerlukan otot.

You’ve got 43 muscles in your face, you have to coordinate those in a way that you make sounds that other people will understand.
Kamu punya 43 otot di wajahmu, kamu harus mengkoordinasikannya sedemikian hingga kamu mengeluarkan suara yang akan dipahami orang lain.

If you’ve ever done a new sport for a couple of days, and you know how your body feels? Hurts?
Jika kamu melakukan sebuah cabang olahraga baru untuk pertama kalinya selama beberapa hari, kamu tahu apa yang dirasakan tubuhmu? Sakit?

If your face is hurting, you’re doing it right.
Jika wajahmu sakit, kamu melakukannya dengan benar.

And the final principle is state. Psycho-physiological state.
Dam prinsip yang terakhir adalah keadaan. Keadaan psikis-fisiologis.

If you’re sad, angry, worried, upset, you’re not going to learn. Period.
Jika kamu sedih, marah, cemas, gusar, kamu tidak bisa belajar. Itu saja.

If you’re happy, relaxed, in an Alpha brain state, curious, you’re going to learn really quickly, and very specifically you need to be tolerant of ambiguity.
Jika kamu bahagia, rileks dan di kondisi otak Alpha, penasaran, kamu akan belajar dengan cepat sekali dan secara spesifik kamu perlu toleran terhadap ambiguitas / ketidakpastian.

If you’re one of those people who needs to understand 100 percent every word you’re hearing, you will go nuts, because you’ll be incredibly upset all the time, because you’re not perfect.
Jika kamu adalah tipe orang yang perlu memahami 100 persen setiap kata yang kamu dengarkan, kamu akan gila, karena kamu adalah sangat marah setiap saat karena kamu tidak sempurna.

If you’re comfortable with getting some, not getting some, just paying attention to what you do understand, you’re going to be fine, relaxed, and you’ll be learning quickly.
Jika kamu nyaman dengan paham sebagian, dan tidak paham untuk lainnya, perhatikan hanya pada yang kamu pahami, kamu akan baik-baik saja, berasa lebih rileks dan akan belajar dengan cepat.

So based on those five principles, what are the seven actions that you take?
Jadi berdasarkan lima prinsip itu, apa tujuh tindakan yang harus kamu lakukan?

Number one: Listen a lot.
Nomer satu: banyaklah mendengarkan.

I call it brain soaking.
Saya menyebutnya dengan brain soaking (perendaman otak)

You put yourself in a context where you’re hearing tons and tons and tons of a language and it doesn’t matter if you understand it or not.
Tempatkan dirimu di sebuah situasi di mana kamu mendengarkan banyak sekali suara / percakapan sebuah bahasa dan tidak penting apakah kamu memahaminya atau tidak.

You’re listening to the rhythms, to patterns that repeat, you’re listening to things that stand out.
Kamu mendengarkan ritme, pola yang berulang, kamu mendengarkan hal-hal yang menonjol.

So, just soak your brain in this.
Jadi, “rendamlah” otakmu.

The second action is that you get the meaning first, even before you get the words.
Tindakan kedua adalah kamu dapatkan artinya dulu, bahkan sebelum kamu mendengar kata-katanya.

You go: “Well how do I do that? I don’t know the words!”
Kamu mungkin akan berkata: “Bagaimana saya melakukannya? Saya tidak tahu kata-katanya!”

Well, you understand what these different postures mean.
Kamu mengerti arti postur-postur yang berbeda ini.

Human communication is body language in many, many ways, so much body language.
Komunikasi manusia adalah bahasa tubuh dalam banyak hal, begitu banyak bahasa tubuh.

From body language you can understand a lot of communication, therefore, you’re understanding, you’re acquiring through comprehensible input.
Dari bahasa tubuh, kamu bisa mengerti banyak komunikasi, karena itu, kamu memahami, kamu belajar melalui comprensible input (input yang bisa dipahami)

And you can also use patterns that you already know.
Dan kamu juga bisa menggunakan pola-pola yang sudah kamu ketahui.

If you’re a Chinese speaker of Mandarin and Cantonese and you go to Vietnam, you will understand 60 percent of what they say to you in daily conversation, because Vietnamese is about 30 percent Mandarin, 30 percent Cantonese.
Jika kamu adalah seorang penutur China Mandarin dan Kantonese dan kamu pergi ke Vietnam, kamu akan memahami 60 persen dari apa yang mereka katakan padamu dalam percakapan sehari-hari, karena orang Vietnam adalah 30 persen Mandarin, dan 30 persen Kantonese.

The third action: Start mixing.
Tindakan ketiga: Mulailah mencampurkan.

You probably have never thought of this but if you’ve got 10 verbs, 10 nouns and 10 adjectives, you can say 1000 different things.
Kamu mungkin tidak pernah berpikir tentang ini, tapi jika kamu punya 10 kata kerja, 10 kata benda dan 10 kata sifat, kamu bisa mengatakan 1.000 hal yang berbeda.

Language is a creative process.
Bahasa adalah proses kreatif.

What do babies do?
Apa yang dilakukan bayi?

OK, “me”, “bath”, “now”.
Ok, “aku” “mandi” “sekarang”

OK, that’s how they communicate.
Itulah cara mereka berkomunikasi.

So start mixing, get creative, have fun with it, it doesn’t have to be perfect, just has to work.
Jadi mulailah mencampurkan, jadilah kreatif, bersenang-senanglah, tidak harus sempurna, hanya perlu berhasil (bisa dipahami).

And when you’re doing this, you focus on the core.
Dan ketika kamu melakukan ini, kamu berfokus pada intinya.

What does that mean?
Apa maksudnya.

Well, any language is high frequency content.
Setiap bahasa adalah konten frekuensi tinggi.

In English 1000 words covers 85 percent of anything you’re ever going to say in daily communication.
Dalam bahasa Inggris, 1.000 kata mencakup 85 persen semua yang akan kamu katakan dalam komunikasi setiap hari.

3000 words gives you 98 percent of anything you’re going to say in daily conversation.
3.000 kata akan memberikan 98 persen semua yang akan kamu katakan dalam komunikasi setiap hari.

You got 3000 words, you’re speaking the language.
Jika kamu punya 3.000 kata-kata, kamu berbicara bahasa itu.

The rest is icing on the cake.
Yang lainnya hanyalah bonus.

And when you’re just beginning with a new language, start with your tool box. Week number one, in your new language you say things like:”How do you say that?” “I don’t understand,” “repeat that please,” “what does that mean?” all in your target language.
Dan ketika kamu baru mulai dengan mempelajari bahasa baru, mulailah dengan kotak alatmu. Minggu pertama, di bahasa barumu katakan hal seperti: “Bagaimana anda mengucapkan itu?” “Saya tidak paham” “Tolong ulangi yang anda katakan” “Apa maksudnya?” semuanya dalam bahasa targetmu.

You’re using it as a tool, making it useful to you, it’s relevant to learn other things about the language.
Kamu menggunakannya sebagai alat, membuatnya berguna untukmu, itu relevan untuk mempelajari hal lain tentang bahasa itu.

By week two, you should be saying things like: “me,” “this,” “you,” “that,” “give,” you know, “hot,” simple pronouns, simple nouns, simple verbs, simple adjectives, communicating like a baby.
Di minggu kedua, kamu seharusnya sudah bisa mengatakan hal-hal seperti: “saya” “ini” “anda” “itu” “beri” “panas”, kata ganti yang sederhana, kata benda yang sederhana, kata kerja yang sederhana, kata sifat yang sederhana, berkomunikasi seperti seorang bayi.

And by the third or fourth week, you’re getting into “glue words.”
Dan di minggu ketiga atau keempat, kamu mulai menggunakan “kata perekat”

“Although,” “but,” “therefore,” these are logical transformers that tie bits of a language together, allowing you to make more complex meaning.
“Meskipun” “tapi” “maka dari tu”, ini adalah pengganti logis yang menggabungkan bagian-bagian bahasa, mengijinkanmu untuk menciptakan kalimat yang lebih kompleks.

At that point you’re talking.
Di titik itu kamu berbicara.

And when you’re doing that, you should get yourself a language parent.
Dan ketika kamu melakukan itu, kamu perlu mencari “orang tua bahasa” untuk dirimu.

If you look at how children and parents interact, you’ll understand what this means.
Jika kamu melihat bagaimana anak-anak dan orang tua berinteraksi, kamu akan paham maksudnya.

When a child is speaking, it’ll be using simple words, simple combinations, sometimes quite strange, sometimes very strange pronunciation, other people from outside the family don’t understand it.
Ketika seorang anak berbicara, dia akan menggunakan kata-kata yang sederhana, kombinasi yang sederhana, kadang-kadang agak aneh, kadang-kadang dengan pengucapan yang sangat aneh, orang lain di luar keluarga mungkin tidak memahaminya.

But the parents do.
Tapi orang tua bisa memahaminya.

And so the kid has a safe environment, gets confidence.
Jadi anak-anak memiliki lingkungan yang aman dan memperoleh kepercayaan diri.

The parents talk to the children with body language and with simple language they know the child understands.
Orang tua berbicara pada anak-anak dengan bahasa tubuh dan dengan bahasa yang sederhana yang mereka tahu bisa dipahami oleh anak mereka.

So you have a comprehensible input environment that’s safe, we know it works; otherwise none of you would speak your mother tongue.
Kamu memiliki comprehensible input, lingkungan yang aman, kita tahu itu berhasil, karena kalau tidak tidak ada dari kalian yang bisa berbicara bahasa ibu kalian.

So you get yourself a language parent, who’s somebody interested in you as a person who will communicate with you essentially as an equal, but pay attention to help you understand the message.
Kamu cari “orang tua bahasa”, seseorang yang tertarik padamu yang akan berkomunikasi denganmu sebagai pihak yang setara, tapi memperhatikan untuk membantumu memahami pesannya.

There are four rules of a language parent.
Ada empat aturan untuk orang tua bahasa.

Spouses are not very good at this, OK?
Pasangan tidak begitu baik untuk posisi ini, ya?

But the four rules are, first of all, they will work hard to understand what you mean even when you’re way off beat.
Tapi empat aturan itu adalah, pertama-tama, mereka akan berusaha keras untuk memahami apa yang kamu maksud meskipun bahasa kamu agak berantakan.

Secondly, they will never correct your mistakes.
Kedua, mereka tidak pernah membenarkan kesalahanmu.

Thirdly, they will feed back their understanding of what you are saying so that you can respond appropriately and get that feedback and then they will use words that you know.
Ketiga, mereka akan mengetakan pemahaman mereka akan apa yang kamu katakan supaya kamu bisa merespon dengan benar, ambil masukannya dan mereka akan menggunakan kata-kata yang kamu ketahui

The sixth thing you have to do, is copy the face.
Hal ke-enam yang harus kamu lalukan adalah tiru wajahnya.

You got to get the muscles working right, so you can sound in a way that people will understand you.
Kamu harus menggunakan ototnya dengan benar, supaya kamu bisa mengucapkan sedemikian hingga orang memahamimu.

There’s a couple of things you do.
Ada beberapa hal yang kamu lakukan.

One is that you hear how it feels, and feel how it sounds which means you have a feedback loop operating in your face, but ideally if you can look at a native speaker and just observe how they use their face, let your unconscious mind absorb the rules, then you’re going to be able to pick it up.
Satu adalah kamu dengar bagaimana rasanya, dan rasakan bagaimana suaranya yang artinya kamu punya lingkaran feedback terjadi di mukamu, tapi idealnya jika kamu bisa melihat penutur asli dan amati bagaimana mereka menggunakan wajah mereka, biarkan alam tidak sadarmu menyerap aturan-aturan itu, lalu kamu akan bisa mempelajarinya.

And if you can’t get a native speaker to look at, you can use stuff like this…
Dan jika kami tidak bisa menemukan penutur asli untuk kamu amati, kamu bisa menggunakan hal-hal seperti ini…

And the final idea here, the final action you need to take is something that I call “direct connect”.
Dan ide yang terakhir, tindakan terakhir yang perlu kamu lakukan adalah sesuatu yang saya sebut dengan “hubungan langsung”

What does this mean?
Apa masksudnya?

Well most people learning a second language sort of take the mother tongue words and the target words and go over them again and again in their mind to try and remember them.
Sebagian besar orang yang mempelajari bahasa asing mengambil kata-kata dari bahasa ibu mereka dan kata-kata target dan mengulang-ulangnya di pikiran mereka untuk mengingatnya.

Really inefficient.
Sangat tidak efisien.

What you need to do is realise that everything you know is an image inside your mind, it’s feelings, if you talk about fire, you can smell the smoke, you can hear the crackling, you can see the flames, so what you do, is you go into that imagery and all of that memory and you come out with another pathway.
Yang perlu kamu lakukan adalah menyadari bawah segala sesuatu yang kamu ketahui adalah gambar yang ada di pikiranmu, itu adalah perasaan, jika kamu bicara masalah api, kamu cium asapnya, kamu bisa dengar suaranya, kamu bisa lihat nyalanya, jadi yang kamu lakukan adalah kamu akses gambar-gambar itu dan ingatan-ingatan itu dan kamu keluar lewat jalan yang lain.

So I call it “same box, different path”.
Saya menyebutnya “kotak yang sama, jalan yang berbeda”

You come out of that pathway and you build it over time, you become more and more skilled at just connecting the new sounds to those images that you already have, into that internal representation.
Kamu keluar dari jalan itu dan kamu bangun itu seiring waktu, kamu akan menjadi lebih dan lebih terampil dalam menghubungkan suara baru dengan gambar-gambar yang sudah kamu punyai, menjadi referensi internal.

And over time you even become naturally good at that process, that becomes unconscious.
Dan seiring waktu, kamu akan menjadi lebih spontan dengan proses itu, dan itu akan menjadi proses yang tidak kamu sadari.

So, there are five principles that you need to work with, seven actions,if you do any of them, you’re going to improve.
Jadi, ada lima prinsip yang perlu kamu gabungkan dengan tujun tindakan, jika kamu melakukan salah satunya, kamu akan menjadi lebih baik..

And remember these are things under your control as the learner.
Dan ingat, ini adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan sebagai pembelajar.

Do them all and you’re going to be fluent in a second language in six months.
Lakukan itu semua dan kamu akan menjadi lancar berbahasa asing dalam enam bulan

Thank you.
Terima kasih