How to Achieve Your Most Ambitious Goals

How to Achieve Your Most Ambitious Goals
Bagaimana Caranya Mencapai Cita-Cita Terambisiusmu

By a show of hands.

Silakan angkat tangan.

How many of you believe you could replicate this image of Brad Pitt with just a pencil and piece of paper?
Berapa dari kalian yang percaya kalian bisa mereplikasi gambar Brad Pitt ini hanya dengan pencil dan selembar kertas?

Well, I’m going to show you how to do this.
Saya akan menunjukkan pada kalian caranya.

And in so doing,
Dan dengan demikian,

I’m going to give you the skill necessary to become a world-class artist.
Saya akan memberi kalian kemampuan yang diperlukan untuk menjadi seorang artis kelas dunia.

And it shouldn’t take more than about 15 seconds.
Dan harusnya butuh tidak lebih dari 15 detik.

But before I do that,
Tapi sebelum saya melakukannya,

how many of you believe you could replicate this image of a solid gray square?
berapa dari kalian percaya kalian bisa mereplikasi gambar kotak abu-abu ini?

Every one of us.
Kita semuanya percaya.

And if you can make one gray square, you can make two, three, nine …
Dan jika kalian bisa membuat satu kotak abu-abu, kalian bisa membuat dua, tiga, sembilan …

Truth of the matter is, if you could made just one gray square,
Sejujurnya, jika kalian bisa membuat satu kotak abu-abu saja,

it’d be very difficult to argue that you couldn’t make every gray square necessary to replicate the image in its entirety.
akan sulit untuk mendebat bahwa kalian tidak bisa membuat semua kotak abu-abu yang dibutuhkan untuk mereplikasi gambar ini secara keseluruhan.

And there you have it.
Nah itu dia.

I’ve just given you the skills necessary to become a world-class artist.
Saya baru saja memberi kalian kemampuan yang diperlukan untuk menjadi seorang artis kelas dunia.

I know what you’re thinking.
Saya tahu apa yang kalian pikirkan.

“That’s not real art, certainly wouldn’t make me a world-class artist.”
“Itu bukan seni yang sesungguhnya, tentunya itu tidak akan membuat saya seorang artis kelas dunia.”

So let me introduce you to Chuck Close.
Jadi ijinkan saya memperkenalkan Chuck Close pada kalian.

He’s one of the highest-earning artists in the entire world, for decades, he creates his art using this exact technique.
Dia adalah salah satu seniman dengan penghasilan tertinggi di seluruh dunia, selama puluhan tahun, dia menciptakan karya seninya dengan menggunakan teknik itu.

You see, what stands between us and achieving even our most ambitious dreams has far less to do with possessing some magical skill or talent,
Yang memberi jarak antara kita dengan mencapai mimpi-mimpi terambisius kita bukanlah dengan memiliki kemampuan atau bakat yang luar biasa,

and far more to do with how we approach problems and make decisions to solve them.
tapi lebih bagaimana kita mendekati permasalahan dan membuat keputusan untuk menyelesaikannya.

And because of the continuous and compounding nature of all those millions of decisions that we face on a regular basis,
Dan karena sifat berkelanjutan dan berlipat-gandanya jutaan keputusan yang kita hadapi setiap saat,

even a marginal improvement in our process can have a huge impact on our end results.
bahkan sebuah peningkatan kecil di proses kita bisa menciptakan dampak besar pada hasil akhir kita.

And I’ll prove this to you by taking a look at the career of Novak Djokovic.
Dan saya akan membuktikan ini pada kalian dengan melihat pada karir Novak Djokovic.

Back in 2004, when he first became a professional tennis player, he was ranked 680th in the world.
Di tahun 2004, ketika dia pertama kali menjadi pemain tenis profesional, Novak menduduki peringkat ke-680 di dunia.

It wasn’t until the end of his third year that he jumped up to be ranked third in the world.
Baru sampai di akhir tahun ketiganya dia melonjak ke peringkat tiga dunia.

He went from making 250,000 a year to 5 million a year, in prize money alone,
Dia beralih dari menghasilkan 250.000 dolar per tahun ke 5 juta per tahun, hanya dari nilai uang hadiah saja,

and of course, he did this by winning more matches.
dan tentu saja, dia melakukannya dengan memenangkan lebih banyak pertandingan.

In 2011, he became the number one ranked men’s tennis player in the world,
Pada tahun 2011, dia menjadi petenis nomor satu dunia,

started earning an average of 14 million a year in prize money alone and winning a dominating 90% of his matches.
mulai menghasilkan rata-rata 14 juta dolar per tahun dari uang hadiah saja dan memenangkan 90% dari pertandingan-pertandingannya.

Now, here’s what’s really interesting about all of these very impressive statistics.
Nah, ini yang begitu menarik tentang semua statistik yang mengagumkan ini.

Novak doesn’t control any of them.
Novak tidak mengaturnya.

What he does control are all the tiny little decisions that he needs to make correctly along the way in order to move the probability in favor of him achieving these types of results.
Yang dia atur adalah keputusan-keputusan kecil yang perlu dia lakukan dengan benar untuk menggerakkan probabilitas untuk menguntungkannya dalam mencapai hasil-hasil seperti ini.

And we can quantify and track his progress in this area by taking a look at the percentage of points that he wins.
Dan kita bisa mengukur dan mengikuti kemajuannya di area ini dengan melihat persentase poin yang dia menangkan.

Because in tennis the typical point involves one to maybe three decisions,
Karena dalam tenis, poin pada umumnya melibatkan satu hingga mungkin tiga keputusan.

I like to refer to this as his decision success rate.
Saya suka menyebut ini sebagai tingkat keberhasilan keputusannya.

So, back when he was winning about 49% of the matches he was playing, he was winning about 49% of the points he played.
Jadi ketika dia memenangi sekitar 49% pertandingan yang dia mainkan, dia memenangkan sekitar 49% poin yang dia mainkan.

Then to jump up, become number three in the world, and actually earn five million dollars a year for swinging a racquet, he had to improve his decision success rate to just 52 percent.
Lalu untuk melonjak, untuk menjadi peringkat ketiga di dunia, dan benar-benar menghasilkan lima juta dolar per tahun dengan mengayunkan sebuah raket, dia harus meningkatkan tingkat keberhasilan keputusannya ke 52 persen saja.

Then to become not just number one but maybe one of the greatest players to ever play the game, he had to improve his decision success rate to just 55 percent.
Lalu untuk menjadi tidak hanya pemain peringkat pertama tapi juga mungkin pemain terhebat yang pernah ada, dia harus meningkatkan tingkat keberhasilan keputusannya ke 55 persen saja.

And I keep using this word “just.”
Dan saya selalu menggunakan kata ini “saja”.

I don’t want to imply this is easy to do, clearly, it’s not.
Saya tidak ingin mengartikan ini mudah untuk dilakukan, tentu saja, itu tidak mudah.

But the type of marginal improvements that I’m talking about are easily achievable by every single one of us in this room.
Tapi tipe peningkatan kecil yang saya bicarakan bisa dicapai dengan mudah oleh kita semua di ruangan ini.

And I’ll show you what I mean.
Dan saya akan tunjukkan apa yang saya maksud.

From kindergarten, all the way through to my high school graduation –
Sejak taman kanak-kanak, hingga wisuda SMA saya –

yes, that’s high school graduation for me –
ya, itu kelulusan SMA bagi saya –

every one of my report cards basically said the same thing:
setiap rapor saya pada dasarnya mengatakan hal yang sama:

Steven is a very bright young boy, if only he would just settle down and focus.
Steven adalah seorang anak yang cerdas, jika saja dia tenang dan fokus.

What they didn’t realize was I wanted that even more than they wanted it for me,
Yang tidak mereka sadari adalah saya menginginkan itu lebih dari mereka menginginkannya bagi saya,

I just couldn’t.
Saya hanya tidak bisa melakukannya.

And so, from kindergarten straight through the 2nd year of college, I was a really consistent C, C- student.
Jadi, dari taman kanak-kanak hingga tahun kedua kuliah, saya adalah murid yang konsisten biasa-biasa saja

But then going into my junior year, I’d had enough.
Tapi ketika memasuki tahun ketiga kuliah, saya mulai muak.

I thought I want to make a change.
Saya berpikir saya ingin membuat sebuah perubahan.

I’m going to make a marginal adjustment, and I’m going to stop being a spectator of my decision-making and start becoming an active participant.
Saya akan membuat sebuah penyesuaian kecil, dan saya akan berhenti menjadi penonton akan pengambilan keputusan saya dan mulai menjadi anggota yang aktif.

And so, that year, instead of pretending, again, that I would suddenly be able to settle down and focus on things
for more than five or ten minutes at a time, I decided to assume I wouldn’t.
Jadi, tahun itu, alih-alih berpura-pura lagi bahwa saya secara tiba-tiba akan bisa menjadi tenang dan fokus ke suatu hal selama lima menit atau lebih di satu waktu, saya memutuskan untuk berasumsi tidak akan demikian.

And so, if I wanted to achieve the type of outcome that I desire – doing well in school – I was going to actually have to change my approach.
Lalu, jika saya ingin mencapai hasil yang saya inginkan – berprestasi di sekolah – saya harus mengubah pendekatan saya.

And so I made a marginal adjustment.
Lalu saya membuat sebuah penyesuaian kecil.

If I would get an assignment, let’s say, read five chapters in a book, I wouldn’t think of it as five chapters,
Jika saya menerima sebuah tugas, misalnya membaca lima bab dari sebuah buku, saya tidak akan memikirkannya sebagai lima bab,

I wouldn’t even think of it as one chapter.
Saya bahkan tidak akan menganggapnya sebagai satu bab.

I would break it down into these tasks that I could achieve, that would require me to focus for just five or ten minutes at a time.
Saya akan memecahnya menjadi tugas-tugas yang bisa saya selesaikan, yang akan memerlukan saya untuk fokus hanya lima atau sepuluh menit di satu waktu.

So, maybe three or four paragraphs.
Jadi, mungkin tiga atau empat paragraf.

That’s it.
Itu saja.

I would do that and when I was done with those five or ten minutes, I would get up.
Saya akan melakukannya dan ketika saya sudah mencapai lima atau sepuluh menit itu, saya akan bangun.

I’d go shoot some hoops, do a little drawing, maybe play video games for a few minutes, and then I come back.
Saya akan bermain basket, menggambar, mungkin bermain video game beberapa menit dan saya akan kembali.

Not necessarily to the same assignment, not even necessarily to the same subject, but just to another task that required just five to ten minutes of my attention.
Tidak hanya ke tugas yang sama, bahkan tidak juga ke subyek yang sama, tapi ke tugas lain yang membutuhkan hanya lima atau sepuluh menit perhatian saya.

From that point forward, all the way through to graduation, I was a straight-A student, Dean’s List, President’s Honor Roll, every semester.
Sejak saat itu, hingga kelulusan, saya adalah mahasiswa ber-IPK tinggi, masuk dalam Daftar Dekan dan Daftar Kehomartan Presiden setiap semester.

I then went on to one of the top graduate programs in the world for finance and economics.
Saya lalu melanjutkan studi ke salah satu program pasca-sarjana dalam bidang keuangan dan ekonomi terbaik di dunia.

Same approach, same results.
Pendekatan yang sama, hasil yang sama.

So then, I graduate.
Kemudian saya lulus.

I start my career and I’m thinking, this worked really well for me.
Saya memulai karir saya dan saya berpikir, ini sudah berhasil dengan bagus untuk saya.

You know, you take these big concepts, these complex ideas, these big assignments, you break them down too much more manageable tasks,
Kamu mengambil konsep besar ini, gagasan yang rumit ini, tugas besar ini, kamu memecahkannya ke tugas-tugas kecil yang lebih bisa dikelola

and then along the way, you make a marginal improvement to the process that ups the odds of success in your favor.
lalu dalam prosesnya, kamu membuat sebuah peningkatan kecil ke proses itu yang menambah kemungkinan sukses berada di pihakmu.

I’m going to try and do this in my career.
Saya akan mencoba dan melakukannya pada karir saya.

So I did.
Lalu saya lakukan.

I started out as an exotic derivatives trader for Credit Suisse.
Saya memulai karir saya sebagai pialang produk finansial derivatif yang eksotis di Credit Suisse.

It then led me to be global head of currency option trading for Bank of America,
Lalu itu mengarahkan saya menjadi kepala global divisi trading opsi mata uang di Bank of America,

global head of emerging markets for AIG international.
kepala global divisi pasar berkembang di AIG International.

It helped me deliver top-tier returns as a global macro hedge fund manager for 12 years
and to become founder and CIO of two award-winning hedge funds.
Cara itu membantu saya memberikan hasil unggul sebagai manajer makro dana lindung nilai global selama 12 tahun dan menjadi pendiri dan CIO dua dana lindung nilai yang meraih penghargaan.

So it gets to 2001, and I’m thinking, this whole idea, it worked really well in school,
Beralih ke tahun 2011, dan saya berpikir, semua gagasan ini, berhasil dengan baik di sekolah,

it’s been serving me well as a professional,
sudah membantu saya sebagai seorang profesional,

why aren’t I applying this in my personal life,
mengapa saya tidak menerapkan ini ke kehidupan pribadi saya,

like to all those big ambitious goals I have for myself?
seperti semua cita-cita ambisius yang besar bagi diri saya?

So one day, I’m walking to work,
Jadi suatu hari, saya berjalan kaki ke kantor,

and at the time my commute was a walk from one end of Hyde Park to the other, in London.
dan waktu itu perjalanan kerja saya adalah jalan kaki dari satu ujung Hyde Park ke ujung lainnya, di kota London.

It took me about 45 minutes each way,
Saya menghabiskan sekitar 45 menit sekali jalan,

an hour and a half a day, seven and a half hours a week,
satu setengah jam dalam satu hari, tujuh setengah jam dalam satu minggu,

30 hours a month, 360 hours a year,
30 jam dalam satu bulan, 360 jam dalam satu tahun,

when I was awake, aware, basically wasting time,
ketika saya terjaga, sadar, pada dasarnya menghabiskan waktu,

listening to music on my iPod.
mendengarkan musik di iPod saya.

So on my way home from work that day I stopped at the store.
Akhirnya dalam perjalanan pulang dari kantor hari itu saya berhenti di sebuah toko.

I picked up the first 33 CDs in the Pimsleur German language program, ripped them and put them onto my iPod.
Saya mengambil 33 CD pertama dalam program bahasa Jerman Pimsleur, mengubah formatnya dan memasukkannya ke iPod saya.

But I didn’t stop there.
Tapi saya tidak berhenti di sana.

Because the truth of the matter is, I’m an undisciplined person.
Karena sejujurnya, saya adalah orang yang tidak disiplin.

And I knew that at some point, I’d switch away from the language and go back to the music.
Dan saya tahu bahwa pada satu saat, saya akan beralih dari bahasa dan kembali ke musik.

So I removed that temptation by removing all of the music.
Jadi saya menyingkirkan godaan itu dengan membuang semua musiknya.

That left me with just one option:
Itu menyisakan saya hanya dengan satu opsi:

listen to the language tapes.
mendengarkan ke tape bahasa.

So ten months later, I’d listened to all 99 CDs in the German language program,
Jadi sepuluh bulan kemudian, saya mendengarkan semua 99 CD dalam program bahasa Jerman itu,

listened to each one three times each.
mendengarkan setiap CD masing-masing tiga kali.

And I went to Berlin for a 16-day intensive German course.
Lalu saya pergi ke Berlin untuk mengikuti kursus intensif Bahasa Jerman selama 16-hari.

When I was done, I invited my wife and kids to meet me.
Ketika saya selesai, saya mengundang istri dan anak saya untuk mengunjungi saya.

We walked around the city.
Kami berjalan-jalan mengelilingi Berlin.

I spoke German to the Germans, they spoke German back to me.
Saya berbicara dalam Bahasa Jerman kepada orang-orang Jerman, mereka berbicara dalam Bahasa Jerman balik kepada saya.

My kids were amazed.
Anak-anak saya begitu kagum.

I mean they couldn’t close their jaws.
Mereka tidak bisa mengatupkan rahang mereka (=melongo)

But you and I, we know, there is actually nothing amazing about what I’ve just done.
Tapi kalian dan saya, kita tahu, sebenarnya tidak ada yang mengagumkan dari apa yang baru saja saya lakukan.

I made this marginal adjustment to my daily routine.
Saya membuat penyesuaian kecil ini ke rutinitas harian saya.

This marginal adjustment to my process.
Penyesuaian kecil ini ke proses saya.

And now I could speak some German.
Dan sekarang saya bisa berbicara sedikit Bahasa Jerman.

And so in that moment, I’m thinking, it’s not supposed to be this easy for a guy like me – an old guy – to learn a new language.
Lalu waktu itu saya berpikir, harusnya tidak semudah ini bagi orang seperti saya – orang tua – untuk mempelajari sebuah bahasa baru.

You’re supposed to do that when you’re a kid.
Kamu seharusnya melakukannya ketika kamu masih kecil.

And yet here I had done it.
Tapi saya baru saja melakukannya.

This marginal adjustment.
Penyesuaian kecil ini.

So what other big ambitious goals I’ve been holding onto, putting off until retirement, that I could potentially achieve if I just made a marginal adjustment to my routine?
Lalu cita-cita ambisius besar lain apa yang selama ini saya simpan, saya tunda hingga pensiun, yang mungkin bisa saya raih jika saya membuat penyesuaian kecil pada rutinitas saya?

So I started doing them.
Lalu saya mulai melakukannya.

I earned my auto racing license.
Saya meraih ijin balap saya.

I learned how to fly a helicopter,
Saya belajar menerbangkan helikopter,

did rock-climbing, skydiving.
melakukan panjat tebing, terjun payung.

I learned how to fly planes aerobatically.
Saya belajar menerbangkan pesawat secara aerobatik.

Well, if you’re like me, back in 2007, you might have the same goal I had.
Kalau kalian seperti saya, di tahun 2007, kalian mungkin punya cita-cita yang sama dengan saya.

I was just moving back from London.
Saya baru saja pindah dari London.

I was about 25 pounds overweight and out of shape, and I wanted to rectify that.
Saya kegemukan sekitar 25 pon (=12,5 kg) dan tidak nyaman dengan tubuh saya, dan saya ingin memperbaiki itu.

So I could go to the typical route, you know, I could write a check to a gym I’d never go to.
Saya bisa menjalani rute yang tipikal, saya bisa menulis cek ke gim yang saya tidak akan pernah pergi ke sana.

Or I could swear to myself that I will never again eat those foods that I love but are doing all the damage.
Atau saya bisa berjanji dengan diri saya bahwa saya tidak akan memakan makanan-makanan yang saya sukai tapi yang buruk bagi saya.

And I knew that going that route rarely results in the outcome you desire.
Dan saya tahu bahwa menjalani rute itu jarang membuahkan hasil yang kamu inginkan.

So I decided to become an active participant.
Jadi saya memutuskan untuk menjadi peserta yang aktif.

I thought about the habits and passions that I’ve developed in my life,
Saya berpikir tentang kebiasaan dan semangat yang saya kembangkan dalam hidup saya,

and I thought, can I make just a marginal adjustment to them so that they work in my favor as opposed to against me?
dan saya berpikir, bisakah saya membuat sebuah penyesuaian kecil sehingga kebiasaan dan semangat itu mendukung saya dan bukannya menjerumuskan saya?

And so I did.
Lalu saya lakukan.

I’ve got a habit where I’ve been walking an hour and a half a day for the last seven years,
Saya memiliki kebiasaan di mana saya sudah berjalan kaki selama satu dan setengah jam dalam tujuh tahun terakhir,

and I’ve got this passion for being in the outdoors.
dan saya suka berada di alam terbuka.

And so that year, I didn’t actually set the new year’s resolution to lose 25 pounds.
Jadi tahun itu, saya sebenarnya tidak membuat resolusi tahun baru untuk menurunkan berat bada 25 pon.

I set a resolution to hike all 33 trails in the front country of Santa Barbara Mountains.
Saya membuat sebuah resolusi untuk menjalani semua rute jalan di Pegunungan Santa Barbara.

And I’d never been on a hike before in my life.
Dan saya belum pernah melakukan jalan kaki jauh sebelumnya dalam hidup saya.

But the truth of the matter is, it’s not about the 33 trails.
Tapi sejujurnya, ini bukanlah tentang 33 rute jalan itu.

You have to break this big ambitious goal down into these more manageable decisions –
Kalian harus memecahkan cita-cita ambisius besar ini menjadi keputusan-keputusan yang lebih bisa dilakukan –

the types of decisions that need to be made correctly along the way in order to improve the odds of achieving the type of outcome you desire.
tipe keputusan yang perlu dilakukan dengan benar dalam prosesnya untuk meningkatkan kemungkinan mencapai hasil yang kalian inginkan.

It’s not about even one trail.
Ini bahkan bukan tentang satu rute jalan.

It’s about those tiny little decisions, you know, like when you are sitting at your desk, putting in just a little extra time at the end of a day.
Ini adalah tentang keputusan-keputusan kecil itu, ketika kalian duduk di meja kalian, menambahkan sedikit waktu tambahan di akhir hari.

Or you’re lying on your couch, clicking through the channels on your remote control, or scrolling through your Facebook feed, and in that moment, make the decision to put it down.
Atau kalian berbaring di kursi sofa kalian, memilih saluran TV dari remote control kalian, atau melihat Facebook feed kalian, dan saat itu, kalian memutuskan untuk meletakkannya.

You go put on your hiking clothes, you go walk outside your front door, and you shut it behind you.
Kamu memakai pakaian hikingmu, kamu keluar dari pintu depan, dan kamu menutupnya di belakangmu.

You walk to your car, get in, drive to the trailhead.
Kamu berjalan ke mobilmu, masuk dan menuju ke ujung rute jalan.

You get out of the car at the trailhead, and you take one step, you take two steps, three steps.
Kamu keluar dari mobil di ujung rute jalan, dan kamu mengambil satu langkah, kamu mengambil dua langkah, tiga langkah.

Every one of those steps that I have just described is a tiny little decision that needs to be made correctly along the way in order to achieve the ultimate outcome.
Setiap dari langkah-langkah yang baru saja saya jelaskan adalah sebuah keputusan kecil yang perlu dilakukan dengan benar dalam prosesnya untuk mencapai hasil utamanya.

Now, when I say I want to hike 33 trails in the front country, people think about the decisions at the top of the mountain.
Sekarang, ketika saya bilang saya ingin menjalani 33 rute jalan di pegunungan, orang-orang berpikir tentang keputusan-keputusan di puncak gunung.

That’s not what it’s about.
Ini bukanlah tentang itu.

Because if you don’t make the right decision when you’re on the couch,
Karena kalau kalian tidak membuat keputusan yang tepat ketika kalian berbaring di sofa,

there is no decision that occurs at the top of the mountain.
tidak ada keputusan yang terjadi di puncak gunung.

So by the end of the year, I’d hiked all 33 trails in the front country;
Jadi di akhir tahun, saya menjalani semua 33 rute jalan di pegunungan;

I did them a couple of times each.
Saya melakukannya masing-masing beberapa kali.

I even did a few in the backcountry.
Saya bahkan melakukannya beberapa kali di alam yang lebih sepi dan liar.

I lost the 25 pounds, and I capped the year off by doing the hardest half marathon in the world – the Pier to Peak.
Berat badan saya turun 25 pon, dan saya melengkapi tahun itu dengan melakukan setengah maraton yang tersulit di dunia – dari Dermaga ke Puncak.

In 2009, I got really ambitious,
Pada tahun 2009, saya begitu berambisi,

ambitious for a guy who still, to this day, cannot settle down and focus on anything for more than ten or ten minutes at a time,
ambisius untuk ukuran seseorang yang, sampai saat ini, masih tidak bisa duduk tenang dan fokus pada apapun lebih dari lima atau sepuluh menit di satu waktu.

and that was to read 50 books.
dan itu adalah membaca 50 buku.

But again, it’s not about reading 50 books.
Tapi sekali lagi, ini bukanlah tentang membaca 50 buku.

It’s not even about reading one book.
Bahkan juga bukan tentang membaca satu buku.

It’s not about reading a chapter, a paragraph, a sentence.
Bukan tentang membaca satu bab, satu paragraf, satu kalimat.

It’s about that decision when you’re sitting at your desk at the end of the day,
Ini adalah keputusan di mana kamu duduk di depan mejamu di akhir hari,

or when you’re lying on the couch,
atau ketika kamu berbaring di sofa,

or flicking through your Facebook feed,
atau ketika sedang melihat linimasa Facebook kamu,

and you put down the phone.
dan kamu meletakkan telponnya.

You pick up a book and you read one word.
Kamu ambil satu buku dan kamu baca satu kata.

If you read one word, you’ll read two words, three words;
Kalau kamu membaca satu buku, kamu akan membaca dua kata, tiga kata;

you’ll read a sentence, a paragraph, a page, a chapter, a book;
kamu akan membaca satu kalimat, satu paragraf, satu bab, satu buku;

you’ll read ten books, 30 books, 50 books.
Kamu akan membaca sepuluh buku, 30 buku, 50 buku.

In 2012, I got really ambitious.
Pada tahun 2012, saya begitu sangat ambisius.

I set 24 new year’s resolutions.
Saya mencanangkan 24 resolusi tahun baru.

12 of them were what I call giving resolutions, where I did 12 charitable things that didn’t involve writing a check.
12 di antaranya adalah yang saya sebut resolusi memberi, dimana saya melakukan 12 aksi amal yang tidak melibatkan mengeluarkan cek.

But it’s not without its failures.
Tapi itu bukannya tanpa kegagalan.

I tried to donate blood, and they rejected me because I’d lived in the UK.
Saya mencoba menyumbangkan darah, dan mereka menolak saya karena saya pernah tinggal di Inggris.

I tried to donate my sperm; they rejected me because I was too old.
Saya mencoba menyumbangkan sperma saya; mereka menolak saya karena saya terlalu tua.

I tried to donate my hair, and it turns out nobody wants grey hair.
Saya mencoba menyumbangkan rambut saya, tapi ternyata tidak ada yang menginginkan uban.

So, here I was trying to do something to make myself feel good,
Jadi, saya mencoba melakukan sesuatu untuk menyenangkan saya,

and it was having the opposite effect.
tapi yang terjadi adalah kebalikannya.

So anyway, I’ve also had these 12 learning resolutions, to learn 12 new skills.
Saya juga punya 12 resolusi belajar, untuk mempelajari 12 keahlian baru.

And when I was done with unicycling, parkour, slacklining,
Dan ketika saya sudah selesai dengan naik sepeda satu roda, parkour, meniti tali,

jumping stilts and drumming,
egrang lompat dan main drum,

my wife suggested that I learned how to knit.
istri saya menyarankan saya belajar merajut.

And I’ll be honest, I wasn’t all that passionate about knitting.
Dan sejujurnya, saya tidak begitu bersemangat tentang merajut.

But one day, I’m sitting under this 40-foot tall eucalyptus tree that’s 2.6 miles up the cold spring trail in Santa Barbara,
Tapi satu hari, saya duduk di bawah pohon kayu putih setinggi 40 kaki 2,6 mil di atas jejak musim semi yang dingin di Santa Barbara,

and I’m thinking, that tree would look really cool if it were covered in yarn.
dan saya berpikir, pohon itu akan kelihatan lebih keren kalau dibalut benang.

And so I went home and Googled this,
Lalu saya pulang ke rumah dan mencari tentang ini di Google,

and it turns out it is a thing people do, it’s called yarnbombing:
dan ternyata itu adalah hal yang biasa dilakukan orang-orang, namanya yarnbombing:

you wrap these public structures with yarn.
di mana kamu menyelimuti bangunan umum dengan benang.

And, the second annual international yarn bombing day was just 82 days away.
Dan, waktu itu hari yarnbombing internasional yang kedua hanya tinggal 82 hari lagi.

So for the next 82 days, no matter where I was –
Jadi dalam 82 hari kemudian, di mana pun saya berada-

if I was in a board meeting, on the trading floor, in an airplane or in the hospital,
di pertemuan direksi, di lantai bursa, di dalam pesawat atau di rumah sakit,

I was knitting.
saya merajut.

One stitch at a time.
Satu sulaman demi satu sulaman.

And 82 days later,
Dan 82 hari kemudian,

I had done my first ever yarnbomb.
Saya sudah menyelesaikan yarnbomb pertama saya.

And the response to it blew me away.
Dan tanggapannya mengejutkan saya.

So I kept going …
Jadi saya akhirnya melanjutkan…

with bigger, more ambitious projects that required more engineering skills.
dengan proyek yang lebih besar dan lebih ambisius yang memerlukan kemampuan teknik lebih.

And in 2014, I set the goal to wrap six massive boulders in Los Padres National Forest at the top of the mountains.
Dan di tahun 2014, saya membuat cita-cita untuk menyelimuti enam bebatuan besar di Hutan Negara Los Padres di atas pegunungan.

But if I was going to pull this off, I’d need help.
Tapi jika saya berniat melakukan ini, saya butuh bantuan.

So at this point, I had a few thousand followers on social media as “The Yarnbomber.”
Waktu itu, saya punya beberapa ribu pengikut di media sosial yang dikenal dengan sebutan “Sang Yarnbomber”

And I started getting packages – lots of packages –
Saya mulai menerima kiriman paket – banyak sekali paket –

388 contributors from 36 countries in all 50 states.
388 kontributor dari 36 negara dan dari 50 negara bagian Amerika.

In the end, I didn’t wrap one massive boulder,
Akhirnya, saya tidak hanya menyelimuti satu batuan besar,

I wrapped 18.
saya menyelimuti 18 batu besar.

So I kept going with bigger, more ambitious projects that would require me to work with new materials, like fiberglass, and wood, and metals,
Lalu saya meneruskan dengan proyek yang lebih besar dan lebih ambisius yang akan memerlukan saya untuk bekerja dengan bahan baru, seperti kaca serat, kayu dan besi,

which culminates in a project that is currently at TMC, here in Tucson,
yang berujung pada sebuah proyek yang sekarang ini ada di TMC, di kota Tucson ini,

where I wrapped the Children’s Hospital.
di mana saya menyelimuti Rumah Sakit Anak-Anak.

Along the way, I stopped knitting.
Dalam perjalanannya, saya berhenti merajut.

I never really liked it.
Saya sebenarnya tidak begitu menyukainya.

But …
Tapi…

I like crocheting.
Saya suka merenda.

So, I started making these seven-inch granny squares –
Jadi, saya mulai membuat renda kotak nenek-nenek tujuh inci –

because that’s the standard granny square –
karena itulah standar renda kotak nenek-nenek –

and I thought along the way: why am I stopping at seven inches?
dan dalam prosesnya saya berpikir: mengapa saya harus berhenti di ukuran tujuh inci?

I need big stuff.
Saya butuh sesuatu yang besar.

So, I started making bigger granny squares.
Jadi, saya mulai membuat renda kotak nenek-nenek yang lebih besar.

So one day, I come home from a business trip,
Satu hari, saya pulang dari perjalanan bisnis,

and I’ve got this really large granny,
dan saya punya renda kotak nenek-nenek yang benar-benar besar,

and I went to the website of Guinness.
dan saya pergi ke website Guinness.

I was curious what’s the world’s largest granny square.
Saya penasaran seberapa besar renda kotak nenek-nenek yang terbesar di dunia.

And it turns out there’s no category for it.
Dan ternyata tidak ada kategori itu.

So I applied, and they rejected me.
Saya mengajukan, dan mereka menolak saya.

So I appealed, and they rejected me.
Saya mengajukan banding, dan mereka menolak saya.

I appealed again, and they said fine,
Saya mengajukan banding lagi, dan mereka berkata baik,

if you make it ten meters by ten meters, we’ll create a new category,
kalau kamu membuat renda kotak sepuluh kali sepuluh meter, kita akan membuat kategori baru,

and you will be a Guinness world record holder.
dan kamu akan menjadi pemegang rekor dunia Guiness.

So, for the next two years, seven months, 17 days,
Jadi, dalam dua tahun, tujuh bulan, 17 hari ke depan,

one stitch at a time,
satu renda demi satu renda,

I finally reached more than half a million stitches,
Akhirnya saya mencapai lebih dari setengah juta renda,

incorporated more than 30 miles of yarn,
Menggunakan lebih dari 30 mil benang,

and I am now the official Guinness world record holder for the largest crocheted granny square.
dan sekarang saya adalah pemegang resmi rekor dunia Guinness untuk renda kotak nenek-nenek terbesar.

Along the way, I’ve garnered an awful lot of attention for my escapades.
Dalam prosesnya, saya menerima perhatian banyak untuk petualangan saya.

I’ve been featured in Newsweek magazine,
Saya masuk di majalah Newsweek,

Artnews, which is kind of the Bible for artists.
Artnews, yang seperti Kitab Suci para seniman.

But what I want you to realize when you hear these things:
Tapi yang saya ingin kalian sadari ketika kalian mendengarkan hal ini:

I’m still that C- student.
Saya masihlah murid yang biasa-biasa saja itu.

I’m still that kid who can’t settle down or focus for more than five or ten minutes at a time.
Saya masihlah anak yang tidak bisa duduk tenang dan fokus lebih dari lima atau sepuluh menit di satu waktu itu.

And I remain a guy who possesses no special gift of talent or skill.
Dan saya tetaplah seseorang yang tidak memiliki bakat atau keahlian istimewa.

All I do is take really big, ambitious projects that people seem to marvel at,
Yang saya lakukan hanyalah melakukan proyek yang begitu besar dan ambisius yang dikagumi orang-orang,

break them down to their simplest form
memecahkannya ke bagian-bagian yang paling sederhana

and then just make marginal improvements along the way
dan hanya membuat penyesuaian kecil dalam prosesnya

to improve my odds of achieving them.
untuk meningkatkan kesempatan saya meraihnya.

And so the whole reason I’m giving this talk is
Dan tujuan saya memberikan ceramah ini adalah

I’m hoping to inspire several of you to pull some of those ambitious dreams that you have for yourself off the bookshelf
saya berharap bisa menginspirasi beberapa dari kalian untuk mengambil kembali mimpi-mimpi ambisius yang kalian simpan

and start pursuing them by making that marginal adjustment to your routine.
dan mulai mengejar mimpi-mimpi itu dengan membuat penyesuaian kecil ke rutinitasmu.

Thank you.
Terima kasih.