Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 10

“Keberuntungan” terakhir yang saya ingat ketika kuliah di NTU adalah di tahun terakhir ketika mengerjakan Final Year Project (FYP) yang setara dengan skripsi di Indonesia.

 

Di NTU waktu itu, judul proyek FYP sudah tersedia dan siswa bisa memilih proyek mana yang akan dilakukan bersama dengan dosen yang mengampu proyek tersebut.

 

FYP ini adalah proyek tim beranggotakan dua orang yang bisa saja dari spesialisasi yang berbeda.

 

Waktu itu saya mengambil spesialisasi Electrical Power Engineering (Listrik Arus Kuat) dan sudah hampir kehabisan motivasi akademik.

 

Saya punya seorang teman warga negara Singapore bernama Chris yang bertanya apa saya sudah punya partner untuk FYP saya. Saya jawab belum karena memang pusing juga untuk mencari partner proyek FYP ini.

 

Chris mengambil spesialisasi yang lain dari saya dan bertanya apakah saya mau jadi partner proyek FYPnya. Dia menyerahkan proyek yang akan dipilih kepada saya dan bahkan tidak keberatan jika proyek yang dipilih adalah proyek dari spesialisasi saya.

 

Saya pikir-pikir boleh juga tawarannya. Akhirnya saya setuju berpartner dengan Chris.

 

Chris termasuk mahasiswa yang santai. Bukan golongan mahasiswa yang sangat ambisius terhadap nilai dan terkadang terintimidasi oleh mahasiswa internasional yang menurutnya jauh lebih pandai dari dirinya. Saya percaya dia bukan merujuk pada saya, tapi ke teman-teman saya lainnya yang prestasinya lebih gemerlapan hehe. 

 

Ketika memilih proyek FYP, saya ingat saya tidak mulai dengan melihat judul proyeknya, tapi siapa dosen pengampunya. Saya mencari nama-nama dosen yang pernah mengajar mata kuliah yang saya ambil dan terlihat memiliki sifat murah hati dan penyayang.

 

Akhirnya pilihan saya jatuh pada salah satu profesor. Saya tidak akan sebutkan namanya di sini. Beliau memiliki satu proyek yang berkaitan dengan aplikasi Sistem Listrik Arus Kuat yang sudah dikembangkan oleh beberapa grup mahasiswa dari beberapa tahun sebelumnya. Proyek tahun itu adalah menambahkan satu fitur ke dalam aplikasi pemrograman yang sudah ada itu.

 

Setelah mendapatkan proyek itu dan saya pelajari selama sekitar 2 minggu, saya agak heran dan terkejut.  Setiap proyek FYP berdurasi sekitar 8-10 bulan untuk dikerjakan. Setelah membaca spesifikasi proyek yang harus dilakukan tahun itu dan membaca kode-kode yang sudah dikembangkan mahasiswa sebelumnya, saya menemukan bahwa fitur tambahan yang diminta oleh sang profesor sebenarnya bisa diselesaikan dengan beberapa kode tambahan minor saat itu juga.

 

Saya sebenarnya sama sekali tidak jago programming, tapi fakta bahwa solusi proyek FYPnya sudah terlihat bahkan sebelum saya memberitahu Chris membuat saya agak ragu-ragu. 

 

Saya bertanya lagi ke profesor untuk mengklarifikasi fitur tambahan yang dimaksudkan. Saya tidak memberitahu beliau tentang solusi yang saya lihat.

 

Sang profesor mengiyakan klarifikasi fitur tambahannya. Saya keluar dari ruangan beliau dan sudah membuat rencana.

 

Saya bertemu dengan Chris. Saya jelaskan proyeknya, saya jelaskan solusinya. Chris agak tidak percaya tapi bertanya apa yang harus dia lakukan.

 

Saya jawab bahwa dia tidak perlu melakukan apa-apa. Saya utarakan rencana saya. Saya akan selesaikan programnya lalu bertemu lagi enam bulan kemudian untuk mulai mempersiapkan laporan dan berlatih untuk mempresentasikan proyeknya ke profesor pembimbing.

 

Chris lalu bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan 6 bulan ke depan ini?”

 

“Aku mau cari kerja part-time.” jawab saya.

 

Meskipun menganggap saya agak gila, dia akhirnya menaruh kepercayaan pada saya. Dia berkata akan membenci saya seumur hidupnya jika proyek ini gagal dan dia tidak lulus tepat waktu. 

 

Dan itulah yang terjadi. Selama 6 bulan ke depan saya tidak mengerjakan proyek FYP saya. Saya mencari kerja part-time di luar kampus di sela mengambil beberapa mata kuliah wajib di tahun akhir. 2 bulan sebelum presentasi proyek, saya selesaikan fitur tambahannya dan mulai menjelaskan pada Chris mengenai proyeknya dan bagaimana kami akan mempresentasikan proyek ini dan bagaimana mengantisipasi pertanyaan dari profesor pembimbing.

 

Kami lulus proyek FYP itu dengan nilai B. Not bad untuk proyek yang tidak disentuh selama 6 bulan, dan hanya dipersiapkan 2 bulan sebelum presentasi.

 

Seperti yang ceritakan sebelumnya, saya bukan penerima beasiswa yang baik. Nilai-nilai saya tergolong menyedihkan untuk ukuran penerima beasiswa. Saya lulus dan masuk kategori 2nd Class Lower Division (di bawah First Class dan 2nd Class Upper Division). Kategori rata-rata.

 

Tapi saya tidak peduli dan hanya bersyukur atas apapun kemurahan yang sudah saya terima. Seperti kalimat yang terkenal itu, :Hidup itu seperti sekotak cokelat, kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan.” Tuhan itu baik. Kadang terlalu baik. Seringkali Tuhan menjatuhkan remah-remah untuk kita ikuti. Dan remah-remah itu terus saya ikuti ketika masuk dunia kerja di Singapore dan Malaysia selama 8 tahun berikutnya.