Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 08

Ada kalanya Tuhan bertanya seberapa tekun dan seberapa keras kita bekerja, ada kalanya Tuhan bertanya seberapa cerdas kita mengakali masalah yang ada di depan kita.

 

Pertanyaan itu mewujud dalam dilema akomodasi saya di kampus NTU waktu itu. Di tahun pertama kami diberikan kesempatan untuk tinggal di asrama kampus tanpa syarat, semua siswa internasional mendapatkan kesempatan yang sama.

 

Setelah beradaptasi selama satu tahun, di tahun kedua supaya bisa tinggal di asrama kampus, semua siswa, baik warga Singapore maupun siswa internasional wajib mengikuti sistem alokasi berdasarkan poin aktivitas ekstrakurikuler.

 

Setiap kegiatan ekstra kurikuler membawa bobot poin tersendiri. Mengikuti kegiatan mencari sumbangan warga untuk amal ada poin tersendiri, menjadi panitia event kampus ada poin tersendiri, menjadi komite organisasi kampus ada poin tersendiri. 

 

Semakin banyak kamu mengikuti kegiatan kampus, semakin banyak poin yang kamu kumpulkan, semakin tinggi peluangmu untuk mendapatkan kesempatan tinggal di asrama kampus di tahun berikutnya.

 

Itu adalah sistem yang adil tapi sekaligus agak melelahkan.

 

Biasanya supaya aman mendapatkan alokasi kamar tahun berikutnya, kamu harus mengumpulkan poin di atas 100 – 120. 

Sedangkan kegiatan seperti Red Nose Day yang diikuti ribuan mahasiswa NTU untuk menggalang dana dari publik di jalanan yang menghabiskan waktu sehari penuh dari pagi hingga sore dengan dana transport dan makan pribadi hanya mendapatkan 1 poin.

 

Di tahun pertama saya pontang-panting ikut berbagai kegiatan kampus dan asrama untuk mengejar poin kamar asrama supaya tidak harus tinggal di luar kampus yang biayanya 2 kali lipat dibandingkan tarif kamar asrama.

 

Dalam pengajuan akomodasi asrama tahun kedua saya sempat berada di waiting list karena poin saya meskipun sudah di atas 100 tapi ternyata yang nilainya di atas 100 juga banyak. Tapi syukurnya saya akhirnya bisa mendapatkan alokasi kamar asrama untuk tahun kedua saya di NTU.

 

Saya memikirkan cara untuk bisa mengamankan kamar asrama di tahun ke-3.

 

Lagi-lagi Tuhan memberi petunjuk yang luar biasa.

 

Ternyata selain mengumpulkan poin aktivitas untuk mengamankan kamar asrama, ada kondisi lain yang memungkinkan seorang siswa untuk bisa mendapatkan kesempatan tinggal di kamar asrama, yaitu dengan menjadi anggota tim olahraga kampus dalam ajang IVP Games.

 

IVP Games adalah singkatan dari Inter-Varsity Polytechnic Games. Ini adalah ajang kompetisi olahraga tahunan antar universitas dan politeknik se-Singapore. Semacam SEA Games untuk kampus-kampus di Singapore.

 

IVP Games waktu itu diikuti 6 sekolah: NTU, NUS (National University of Singapore) dan 4 Politeknik di Singapore.

 

Saya dan olahraga bukanlah perpaduan yang ideal. Selain pelajaran olahraga di sekolah, saya tidak pernah berolahraga.

 

Tapi saya dengar dari teman bahwa di cabang Taekwondo ada perekrutan untuk 2 tim yang akan bertanding di IVP. Tim bertanding (sparring) dan tim poomsae (pattern). 

Tim sparring yang akan bertarung melawan petarung tim sekolah lain ini jelas di luar liga saya yang sangat-sangat tidak atletis.

 

Tapi tim pattern ini semacam kompetisi senam hanya saja melakukan gerakan-gerakan taekwondo, tidak perlu bertarung dengan orang lain.

 

Ini jelas menarik minat saya.Terlebih saya dengar peminat untuk tim pattern kurang banyak karena lebih banyak yang berminat untuk kompetisi sparring.

 

Ini adalah kesempatan emas karena kalau bisa menjadi anggota tim IVP Taekwondo, meskipun itu anggota tim pattern dan ikut berkompetisi di ajang IVP Games, anggota IVP secara otomatis diberikan perlakuan khusus (privilege) untuk mendapatkan kamar di asrama kampus tahun berikutnya (bahkan meskipun kalah dalam kompetisi IVP).

 

Saya mulai mendaftarkan diri untuk masuk ke klub Taekwondo NTU sebagai anggota biasa. Latihannya seminggu sekali di lapangan basket SRC (Sports and Recreation Centre).

 

Awal-awal bergabung memang terasa menyiksa karena saya tidak pernah secara sengaja berolahraga secara khusus selain pendidikan olahraga di sekolah. Biasanya setelah selesai latihan Taekwondo, saya jalan kaki kembali ke asrama dengan sedikit pincang karena kulit kaki yang melepuh (blister).

 

Setelah 6 bulan dan terbiasa dengan ritme latihan, pendaftaran bagi anggota klub untuk menjadi anggota tim IVP dibuka. Ada 4 tim pattern yang akan bertanding: sabuk kuning, sabuk hijau, sabuk biru dan sabuk hitam.

 

Saya mengikuti seleksi untuk masuk tim sabuk hijau. Seperti yang saya duga, peminat untuk tim pattern tidak sebanyak tim sparring dan saya lolos seleksi tim sabuk hijau. Itu artinya kamar asrama tahun ke-3 sudah teramankan tanpa saya harus pontang-panting ikut banyak kegiatan dan belum terjamin mendapatkan kamar juga.

 

Tahun itu tim Taekwondo NTU keluar sebagai juara umum kompetisi Taekwondo IVP mengalahkan tim sekolah lain. 4 tim pattern yang berkompetisi termasuk tim saya semuanya menang dan mendapatkan medali emas.

 

Di tahun berikutnya, saya mendaftarkan diri untuk masuk tim pattern sabuk biru dan berhasil mengamankan kamar asrama tahun ke-4 saya di NTU. 

 

Saya sendiri tidak akan percaya kalau suatu saat saya akan masuk tim bela diri Taekwondo dan meraih 2 medali emas untuk kompetisi Taekwondo nasional tingkat kampus meskipun di kategori kompetisi yang kurang macho hahaha.

 

Terlepas dari “keberuntungan’ saya yang agak masif itu, saya mengamati dan belajar ini ketika menjadi anggota Taekwondo club dan anggota tim pattern. Tim Taekwondo NTU selama bertahun-tahun selalu langganan juara umum. Kami dilatih oleh Mr Keith Chua, instruktur Taekwondo Singapore yang pernah bertanding di ajang Asian Games dan meraih medali perunggu atau perak saya sudah lupa. Regim latihannya menyiksa saya yang bukan pecinta olahraga tapi memaksa saya untuk mengikuti ritme menempa tubuh yang fit itu.

 

Meskipun tim pattern sudah langganan juara dan tahu bahwa tim sekolah lain tidak memberikan fokus berlebihan untuk kompetisi pattern, instruktur kami tidak mengendorkan latihan kami. Kami dituntut berlatih dengan intens demi memperlihatkan gerakan sinkron pattern yang sempurna. Ketika kami menggerakan tangan, harus sedemikian hingga suara kain seragam kami akibat gerakan tangan itu suaranya tegas dan bersama-sama. Jika tidak tegas, kami harus mengulangi. Jika tegas tapi tidak bersamaan kami harus mengulangi lagi.

 

Untuk gerakan sinkron pattern yang tidak lebih dari 3 menit, kami berlatih selama kurang lebih 3-4 bulan. Awalnya hanya sekali seminggu, lalu bertambah dua kali seminggu, tiga kali seminggu, hingga mendekati kompetisi kami berlatih enam hari dalam seminggu. Instruktur kami tidak mempedulikan tim sekolah lain yang usaha latihannya tidak segila kami. Kami tidak hanya perlu mengalahkan tim lain, kami perlu mengalahkan diri terbaik kami hari sebelumnya. Obsesi ini membuat dua medali emas yang kami raih dua tahun berturut-turut begitu memuaskan.

 

>> 9. Koleksi Surat Peringatan