Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 06

Tuhan terkadang memberikan banyak petunjuk dalam hidup kita untuk bisa kita cermati dan ikuti. Itu yang saya yakini sampai sekarang. Bahwa tanpa kita minta, Tuhan sudah memberikan petunjuk atas begitu banyaknya pertanyaan dan persoalan yang kita hadapi. Menurut saya, kita saja yang kadang tidak jeli dalam melihat “remah-remah” yang Tuhan taburkan untuk kita ikuti dalam perjalanan hidup kita.

 

Petunjuk untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya itu saya temui di gereja tempat saya mengikuti misa setiap minggu. Di dalam kampus NTU tidak ada tempat ibadah, jadi kami harus keluar kompleks kampus untuk beribadah.

 

Kebetulan ada satu gereja Katolik yang tidak terlalu jauh dari kampus, meskipun kami harus naik bus dari kampus ke Terminal Bus Jurong Point dan naik 1 bus lagi dari Jurong Point ke gereja tersebut. Church of Saint Francis of Assisi. Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi. Itulah gereja kecil dan sudah agak tua yang paling dekat dari kampus NTU. Setiap hari Minggu saya mengikuti misa di gereja itu.

 

Suatu hari petugas gereja menyampaikan pengumuman di akhir misa bahwa mereka membuka rekrutmen untuk posisi lektor.

 

Lektor adalah orang awam yang bertugas membaca 2 dari 3 bacaan Kitab Suci ketika misa. Bacaan ke-3 dibacakan oleh pastur.

 

Ketika di Klaten, saya sudah menjadi lektor di Gereja di Paroki saya Gereja Maria Assumpta Klaten sejak SMP hingga kelas 2 SMA.

 

Waktu itu, seperti ada yang menyenggol saya. Lektor bertugas membacakan bacaan Kitab Suci di hadapan seluruh jemaat yang mengikuti misa. Ketika menjadi lektor di Indonesia, kami para lektor mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan latihan bagaimana membaca Kitab Suci dengan benar dan jelas supaya bisa didengarkan dan dipahami oleh umat.

 

Saya pikir “Hey, ini bisa jadi tempat melatih dan mempraktekkan Bahasa Inggris saya”. Sebenarnya agak sedikit mencemaskan karena pembacaan itu dilakukan di hadapan ratusan umat yang melihat lektor di atas mimbar di depan gereja. Salah sedikit akan menimbulkan rasa malu yang bisa diwariskan turun temurun.

 

Tapi saya pikir-pikir kembali, tidak ada salahnya juga saya mencoba. Masak umat Tuhan yang baik menertawakan orang lain yang melakukan kesalahan yang tidak dia sengaja / ketahui? 

 

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri untuk bergabung dengan tim Lektor Church of St Francis of Assisi. Anggota tim lektor sangat apresiatif dan agak sedikit terkejut karena ada anak muda, orang asing pula, yang berminat untuk bergabung. Rata-rata anggota tim waktu itu orang dewasa di atas usia 30 tahun. Saya anggota termuda waktu itu (18 tahun).

 

Saya bergabung pertemuan rutin mereka dan diberikan kesempatan untuk mempraktekkan membaca Kitab Suci di sesi pertemuan dan para anggota senior memberikan masukan kalau ada kesalahan yang saya buat.

 

Setelah menjadi anggota tim lektor dan mengikuti beberapa kali sesi latihan, saya akhirnya dipercaya untuk diberi tugas membaca di misa Hari Minggu. Saya senang dan sekaligus cemas. Setiap hari di kamar asrama ketika teman sekamar saya tidak di kamar, saya berkali-kali membaca bagian Kitab Suci yang harus saya bacakan di hari saya bertugas. Mungkin selama seminggu itu saya baca hingga 50 kali.

 

Di hari H pertama kali saya bertugas membaca, saya bersyukur karena pembacaan saya dilancarkan, meskipun ketika berada di mimbar, jantung saya rasanya mau jatuh ke lantai.

 

Selesai misa, teman-teman Indonesia siswa NTU yang juga mengikuti misa menghampiri saya dan memberi selamat. Mereka heran kenapa saya bisa berani dan nekat menjadi lektor. 

 

Saya menjadi lektor di Church of St Francis of Assisi selama sekitar 3 tahun dan selama 3 tahun itu saya mendapatkan pelatihan reading dan pronunciation tanpa harus membayar sepeser pun.

 

Di situ saya merenungi bahwa Tuhan tahu saya kere dan tidak punya uang banyak dan mungkin tidak kuat untuk ikut kursus Bahasa Inggris di lembaga kursus, tapi Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan menunjukkan ada cara lain untuk belajar dan berkembang. Saya bersyukur saya melihat peluang itu dan mengambilnya.

 

Karena saya sering bertugas membaca di gereja, bergabungnya saya di tim lektor ini akhirnya diikuti beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Ada yang teman satu angkatan, ada juga angkatan di bawah saya. Di situ saya melihat bahwa hal kecil yang sebenarnya kita lakukan untuk diri kita sendiri kadang tanpa kita ketahui bisa mempengaruhi dan menggerakkan orang lain. 


 >> 7. Penyebar Pamflet, Pramusaji, Programmer Gadungan : Profesi Penyambung Nyawa