Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 05

Di awal-awal tinggal di asrama kampus Hall of Residence 3, saya berniat untuk aktif bergabung di kegiatan kampus dan asrama untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya.

 

Salah satu kegiatan asrama yang yang pernah saya ikuti adalah sebagai kru acara Hall of Residence 3 Dinner and Dance yang mereka selenggarakan setiap tahun.

 

Saya baru tahu kalau untuk acara pesta asrama kampus di tahun 1998, panitia menyewa aula di Inter Continental Hotel, salah satu hotel bintang 5 di Singapore. “Gila” pikir saya.

 

Waktu itu saya menjadi kru umum dan membantu apa saja yang dibutuhkan panitia. Acaranya dilangsungkan malam hari. Kami dikirimkan ke aula hotel di siang hari untuk mempersiapkan ruangan dan logistik acara yang diperlukan. 

 

Setelah persiapan sudah selesai sekitar jam 4 sore, kami para kru diizinkan untuk menikmati acara bebas sebelum jam 6 sore kumpul kembali di aula untuk melanjutkan persiapan acara.

 

Karena tidak ada yang perlu dikerjakan, saya iseng-iseng berjalan di area lobi hotel yang lumayan besar dan mewah.

 

Tiba-tiba ada yang menyapa saya dari belakang “Would you like something to drink Sir?”.

 

“Wah keren sekali hotel mewah ini.” pikir saya. Ramah terhadap tamu yang iseng jalan-jalan di lobi. 

 

“Would you like to have a cup of tea, perhaps?” tanyanya sekali lagi.

 

Dengan raut bersyukur penuh terima kasih, saya jawab “Yes please”. Boleh juga nih hotel bintang 5 bagi-bagi minuman gratis ke tamu2nya. 

 

Kemudian pramusaji itu kembali dengan membawa teh panas yang ditawarkannya tadi. Saya berterima kasih dan dengan duduk santai saya menikmati teh hangat sajian hotel bintang 5 itu. 

 

Sekitar lima belas menit kemudian, pramusaji itu kembali menghampiri saya dan memberikan saya semacam map kecil dan berkata “Your bill, Sir.”

 

Saya tidak tahu “bill” itu apa. Dan saya tanya “I’m sorry what is that?”

 

“The bill for your drink Sir.” jawabnya.

 

Dengan masih tidak paham, saya jawab saya “Ok thank you.”

 

Setelah pramusaji itu berlalu, saya buka map kecil itu dan hampir pingsan.

 

“Bill” itu ternyata nota. Ternyata pramusaji tadi tidak menawarkan minuman gratis, ternyata saya harus bayar. Dan yang membuat saya mau pingsan adalah harga tehnya. 10 Dollar Singapore. Anggaran makan siang saya di kantin selama 5 hari.

 

Whattt???

 

Saya sudah mulai berkeringat di tempat duduk saya di lobi hotel itu.

 

Ya Tuhan, bagaimana ini? Uang beasiswa belum turun tapi sudah dikaruniai bencana seperti ini? Apa rintihan doa saya setiap malam masih kurang?

 

Selama 5 menit saya masih berpikir keras di kursi lobi hotel itu.

 

Dan akhirnya saya membuat keputusan yang sangat tidak saya sukai. Dengan perlahan-lahan, saya berdiri. Berjalan dengan lagak disantai-santaikan meninggalkan kursi saya, gelas teh yang 15 menit yang lalu terasa sangat surgawi dan nota 10 dollar itu.

 

Saya melarikan diri.

 

Hati saya berontak tidak karuan saat itu. Tapi merelakan uang makan siang 5 hari ke depan terasa sangat menyiksa juga. Di dalam hati saya mohon ampun pada Tuhan karena sudah melakukan kejahatan itu.

 

Saya pelan-pelan kembali ke aula hotel dan tidak beranjak dari aula itu hingga akhir acara malamnya. Ketika acara berakhir sekitar jam 10 malam, saya keluar dari area hotel bersama dengan rombongan kawan-kawan yang lain dengan harapan tidak terlihat oleh pramusaji yang memberikan nota kepada saya.

 

Saya lupa kapan persisnya, tapi beberapa tahun kemudian saya kembali ke hotel itu. Tidak menginap, hanya duduk-duduk di lobi saja, menunggu ada pramusaji yang menawari saya untuk memesan minuman. Saya memesan teh panas seperti yang saya pesan beberapa tahun sebelumnya. Ketika pramusaji datang membawa nota, di dalamnya saya selipkan 20 Dollar Singapore dan saya pergi meninggalkan hotel itu setelah menghabiskan teh saya.

 

>> 6. Lektor: Latihan Bahasa Inggris di depan Umat Gereja