Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 04

Dengan uang saku SGD 100, bertahan hidup terasa sangat berat. Setiap hari saya menunggu kabar kapan uang beasiswa akan segera dicairkan.

 

Saya bahkan ingat pernah dipanggil ke Registrar Office dan mendapat bantuan 1 dus yang berisi bermacam-macam item: milo, sereal, handuk, peralatan kamar dsb. Mungkin mereka paham kondisi krisis moneter di Indonesia yang mempengaruhi perekonomian banyak orang, termasuk beberapa siswa Indonesia yang mereka terima. Saya sangat bersyukur waktu itu karena pihak kampus / Registrar tidak wajib melakukan inisiatif tersebut.

 

Untuk bertahan hidup, waktu menunggu uang beasiswa cair itu saya hanya makan nasi sekali sehari. Pagi saya sarapan roti tawar dengan selai, siangnya makan di kantin kampus dengan anggaran 2 dollar, sorenya makan mi instan.

 

Untuk menawarkan kebosanan, saya memvariasi selai untuk sarapan pagi, dari selai stroberi, nanas, coklat, kaya, kembali ke stroberi, nanas begitu seterusnya.

 

Untuk makan siang, saya memvariasi antara chicken rice (nasi ayam), duck rice (nasi bebek), chinese food (nasi sayur), malay food (nasi padang). Syukurnya harga makanan di kantin kampus tergolong murah dibandingkan dengan makanan luar kampus. Meskipun waktu itu kalau dihitung sekali makan 2 dollar Singapore setara Rp 24.000 adalah bekal saya sekitar 5 hari di SMU. 

 

Untuk menu makan malam, saya memvariasi rasa mi instan yang saya beli. Dari rasa kaldu ayam, seafood, tomyam, beef, semua rasa yang ada di rak supermarket saya coba. Kadang kalau sore hari saya masak mi instan di dapur lantai asrama, saya makan mi instannya sambil merem, supaya tidak terlalu memikirkan enegnya. Pikir saya waktu, “ Ayo segera dimasak, dimakan, selesai, belajar dan berharap besok uang beasiswanya cair.”

 

Combo Roti Tawar – Nasi Kantin Kampus – Mi Instan ini berjalan sekitar 3 bulan dan lumayan menyiksa ketika dibarengi dengan mengikuti kegiatan perkuliahan yang masih terbebani kendala bahasa yang harus saya kejar.

 

Setelah 3 bulan, uang beasiswa akhirnya turun saya sedikit menghela nafas meskipun agak terkejut mendapati uangnya sudah dipotong biaya asrama 6 bulan dan hanya tersisa 1000 dolar untuk bertahan hidup selama 6 bulan sebelum pencairan uang beasiswa  semester berikutnya.

 

Sedangkan saya waktu berniat untuk tidak akan meminta uang dari keluarga saya di Klaten sama sekali.

 

Itulah awal bibit dorongan karir kerja part-time saya selama liburan kuliah.

 

>> 5. Teh Panas 10 Dollar di Hotel Inter Continental