Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 03

Beberapa minggu setelah wawancara, sebuah surat tiba di rumah dan memberitahukan secara resmi bahwa saya lolos seleksi Program Beasiswa Nanyang Scholarship yang akan menanggung biaya kuliah saya di NTU dan uang saku untuk kehidupan sehari-hari selama selama 4 tahun.

 

Saya mulai mempersiapkan diri untuk memulai kehidupan baru di Singapore.

 

Usaha konveksi Bapak saya yang terkena dampak krisis moneter membuat usaha persiapan itu sangat mendebarkan. Pakdhe saya berbaik hati untuk mensponsori tiket pesawat keberangkatan saya ke Singapore.

 

Saya berangkat ke Singapore hanya dengan uang saku SGD 100 dengan harapan uang beasiswa bisa segera diterima ketika saya tiba di Singapore.

 

29 Juni 1998 untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang dan bersyukur pada Tuhan karena tidak mabuk ketika di pesawat.

 

Kami dijemput ketika tiba di Singapore dan dibawa dengan bus ke kampus NTU yang berada ujung lain Singapore dari Changi Airport.

 

Untuk tahun pertama, kami diberi kesempatan untuk tinggal di asrama kampus yang dikenal dengan Hall of Residence. Ada sekitar 11 Hall of Residence yang tersebar di seluruh penjuru kampus NTU waktu itu dan saya mendapatkan alokasi tinggal di Hall of Residence 3 yang syukurnya dekat dengan kampus.

 

Saya mendapatkan sebuah kamar double dengan kapasitas 2 orang dan saya tinggal dengan Steven Sasongko, anak Indonesia yang mengambil jurusan Computer Engineering.

 

Dalam minggu pertama tiba di NTU, kami wajib mengikuti medical test yang dilakukan di klinik kampus.Saya pun mengikuti tes sesuai arahan. Setelah selesai bertemu dan diperiksa oleh dokter kampus, saya keluar dari ruangan dokter dan sudah ada wanita muda pegawai klinik yang sudah menunggu saya.

 

Di sinilah bencana kemaluan itu dimulai.

 

Wanita muda itu mulai berbicara dalam Bahasa Inggris khas Singapore (Singlish) yang cepat sekali dan saya hanya bisa menangkap suara terakhirnya “……………you win”.

 

Saya kebingungan dan minta dia mengulangi apa yang dia ucapkan.

 

Wanita muda itu kembali berbicara dengan cepat dan kembali saya hanya bisa menangkap suara terakhirnya “…… you win”

 

Saya mulai agak panik. “Ya Tuhan bagaimana bisa sekolah di sini kalau mendengarkan orang berbicara saja tidak bisa?”

 

Saya mulai mencoba menebak-nebak apa kalimat yang berakhirnya “you win” yang dia ucapkan.

 

“You Win” kan artinya “kamu menang”. Menang apa? Apa ada kontes di Medical Centre atau bagaimana?

 

Wanita muda itu kembali berkata pada saya. “You win, you win”

 

Ya Tuhanku dan Allahku belum masuk kuliah saja ujiannya sudah berat sekali ini.

 

Lalu wanita muda itu mulai menunjuk sesuatu di kejauhan, lalu menunjukkan jari di bagian agak bawah perut dan membuat gerakan setengah lingkaran dari bagian bawah perutnya, menunjuk ke arah kejauhan itu dan berkata, “You go, you win. You go, you win.”

 

Kamu pergi, kamu menang? Apa lagi ini maksudnya? Saya sudah sedikit menangis dalam hati.

 

Waktu itu saya sedang bloon maksimal dan benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan sampai wanita muda itu dengan muka yang agak memerah lalu menunjuk ke bagian bawah perut saya, ke arah kemaluan saya, berkata “You go, you win” dan menunjuk ke arah itu lagi.

 

Di saat itulah alam semesta mulai menunjukkan kebodohan saya. Arah yang ditunjuk oleh wanita muda itu ternyata adalah toilet Medical Centre. Yang saya dengar sebagai “you win” akhirnya bisa terfilter dengan lebih jelas “urine”.

 

Ya Tuhan, ternyata wanita ini menyuruh saya mengambil sampel urine di toilet.

 

Semester 1 belum mulai dan saya mulai mencemaskan beasiswa saya dan saya berharap wanita itu tidak melaporkan saya ke pihak sekolah.

 

Saya tidak menyalahkan wanita muda itu kalau dia meragukan pihak sekolah yang membiarkan idiot seperti saya bisa masuk dan mencemari kampus prestisius mereka.

 

Itulah awal saya menyadari bahwa pengalaman belajar Bahasa Inggris saya selama 6 tahun di SMP dan SMU terasa tidak berguna kalau saya tidak bisa mendengarkan dan menangkap apa yang diucapkan seseorang.

 

Itulah awal saya mulai memperhatikan orang Singapore ketika mereka berbicara, bagaimana mereka mengucapkan kata dan kalimat, bagaimana mereka memilih kata dan ungkapan tertentu dalam berkomunikasi.

 

>> 4. Trio Kwek Kwek: Roti Tawar – Nasi – Mi Instan: 3 Bulan Pertama di Singapore