Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 02

Setelah beberapa hari di Bandung, saya ke Jakarta dan menumpang tidur di rumah Pakdhe saya di Tangerang.

Pakdhe saya berbaik hati untuk menghantarkan saya ke lokasi wawancara waktu itu karena saya tidak paham sama sekali dengan Jakarta dan lalu lintasnya.

 

Saya sudah agak lupa di mana waktu itu wawancaranya diadakan, tapi saya masih ingat wawancaranya melibatkan panelis sekitar 4 orang. Semuanya dari NTU dan wawancaranya dilakukan dalam Bahasa Inggris.

 

Ada seorang wanita setengah baya yang nantinya saya tahu adalah Ms Chua Poh Gek, petinggi Department Penerimaan Mahasiswa Baru (Registrar’s Office) di NTU.

 

Ada seorang pria senior yang terlihat seperti seorang profesor yang nantinya saya tahu adalah Dekan Fakultas Teknik di NTU.

 

Ada seorang pria yang terlihat lebih muda daripada panelis lainnya. Wajahnya mengingatkan saya pada Chow Yun Fat, aktor Hong Kong di film God of Gambler. Wajahnya bersih, rambutnya klimis disisir ke belakang, dengan kacamata silinder. Hanya saja beliau sedikit lebih berbobot dibandingkan Chow Yun Fat. Kalau lebih kurus, mungkin saya akan mengira Chow Yun Fat adalah duta NTU dan melompat ke depan dan minta tanda tangan haha. Ternyata beliau adalah Profesor Harianto Rahardjo. Dosen teknik sipil kelahiran Indonesia yang waktu itu sudah mengajar di NTU selama beberapa tahun.

 

Saya tidak ingat panelis ke-4 seberapa kerasnya saya coba untuk mengingat.

 

Saya nervous luar biasa waktu itu dan berusaha untuk terlihat tenang.

 

Para panelis mulai menanyakan tentang profil akademis saya dan kegiatan-kegiatan yang saya lakukan.

 

Secara diam-diam saya menunggu satu pertanyaan yang sebenarnya jawabannya sudah saya siapkan dan sudah saya hapalkan tiga hari sebelumnya ketika tinggal di rumah Pakdhe saya.

 

Setelah dengan sedikit gelisah menjawab pertanyaan-pertanyaan panelis, akhirnya ada satu panelis yang menanyakan pertanyaan itu, “What would you do if you are not accepted into this program?”. (“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tidak lolos seleksi ini?”)

 

Saya tidak menjawab apa yang akan saya lakukan tapi hanya menjawab secara diplomatis sesuai dengan yang sudah saya hapalkan: “If the door is closed, God will open the window.”

 

Saya melihat para panelis sedikit terkejut dengan jawaban saya dan mulai kasak-kusuk satu sama lain.

 

Kalimat jawaban itu saya temukan secara tidak sengaja ketika saya sedang berada di kamar kakak saya di rumah Oom di Bandung beberapa hari sebelumnya.

 

Di salah satu buku-buku kakak saya terselip sebuah pembatas buku dan ketika iseng-iseng membuka buku itu, saya lihat dan baca kalimat yang tercetak di pembatas buku itu: “Ketika pintu tertutup, Tuhan akan membuka jendela.”

 

Saya seperti mendapat pencerahan dan mencatat kalimat itu di buku catatan saya. Kalimat itu saya terjemahkan ke Bahasa Inggris dan saya hapalkan bersama dengan jawaban-jawaban lain untuk mengantisipasi pertanyaan panelis wawancara.

 

Saya tidak tahu apakah memang jawaban itu ikut membantu saya, tapi setelah kasak-kusuk selama beberapa menit di depan saya tanpa saya bisa mendengar, salah seorang panelis secara garis mengatakan demikian:

 

“Daniel, selamat kamu lolos seleksi program beasiswa dari NTU. Kamu tidak boleh memberitahukan ini pada siapapun sebelum kami mengirimkan surat secara resmi, tapi kami ingin kamu tahu bahwa kamu tidak akan mendapatkan ASEAN Scholarship tetapi Nanyang Scholarship. Kami ingin kamu mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk EBTANAS kamu sebagai prasyarat penerimaan di NTU.”

 

Saya agak bengong waktu itu. Tapi cepat-cepat saya mengucapkan terima kasih kepada mereka.

 

Saya tidak memberitahu siapa-siapa tentang apa yang diucapkan salah satu panelis tersebut. Tidak ke Pakdhe saya, kakak saya, orang tua saya dan bahkan pacar saya.

 

Tapi hati saya dipenuhi rasa syukur. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ada sebuah jalan dan petualangan baru yang akan saya tapaki sendiri tapi mengikuti jejak kakak saya.

Karakter Forrest Gump yang dimainkan oleh Tom Hanks mengucapkan kalimat yang terkenal ini: “Life is like a box of chocolate, you’ll never know what you’re gonna get”. Hidup itu seperti sekotak coklat, kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan.

 

Itu yang saya alami dan amini.

 

>> 3. Kemaluan di Medical Centre