Hidup Itu Seperti Sekotak Cokelat 01

  1. Tahun yang mendebarkan. Sebagian dari kalian mungkin belum lahir. Saya waktu itu sudah kelas 3 SMU. Silakan menghitung betapa mudanya saya sekarang.

 

  1. Krisis moneter nasional pelan-pelan sampai ke kota kecil saya tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Saya ingat waktu itu kami setiap hari membahas berapa harga Sarimi hari itu untuk menunjukkan betapa perekonomian semakin sulit dari hari ke hari.

 

Seperti yang sudah terjadi hampir seluruh hidup saya waktu itu, saya 99% ditakdirkan mengikuti jejak kakak saya untuk kuliah di Bandung.

 

Ini terdengar agak memalukan, tapi dari TK hingga SMU saya selalu di sekolah yang sama dengan kakak saya. Usia kami berbeda 2 tahun, tapi kami hanya terpaut 1 tahun di sekolah.

 

Kakak saya waktu itu sudah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mengambil studi Teknik Kimia. Oom saya di Bandung, di mana kakak saya menumpang tinggal, sudah menyiapkan satu kamar untuk saya karena takdir sepertinya mengarah ke sana.

 

Tapi di sinilah saya melihat luar biasanya Tuhan. Ketika kita sudah yakin dengan apa yang kemungkinan besar akan terjadi pada hidup kita, Sang Maha Plot Twist senantiasa muncul dengan skenario yang tidak pernah kita duga.

 

Jangan pernah meremehkan sesuatu yang bersembunyi dalam definisi “kebetulan”.

 

Kebetulan waktu itu Bapak saya berlangganan koran Kompas. Dan kebetulan waktu itu saya iseng membuka-buka koran Kompas untuk melihat berita apa yang menarik. Dan kebetulan waktu itu saya melihat sebuah iklan di koran Kompas hari itu.

 

Ada sebuah universitas di Singapore bernama Nanyang Technological University (NTU) yang mengundang siswa-siswi SMU di Indonesia untuk melanjutkan studi di universitas mereka.

 

Ide kuliah di luar negeri terasa sangat memabukkan tapi secara realistis saya paham bahwa dengan kondisi perekonomian yang biasa saja sepertinya tidak memungkinkan apalagi di tengah krisis moneter yang waktu itu kian memanaskan suhu politik nasional. 

 

Dengan canda, saya iseng mengirimkan surat kepada NTU untuk memohon formulir pendaftaran dengan tujuan untuk sekedar hiburan sampingan. 

 

Itu tahun 1997. Internet baru ada di kota-kota besar saja. Di Klaten hanya ada telpon biasa dan faksimile yang kalau kamu tidak punya mesin faksimili harus diakses di Wartel (Warung Telekomunikasi) – semacam warnet tapi yang isinya telpon dan faks untuk memfasilitasi mereka yang tidak punya telpon rumah atau sedang di perjalanan dan perlu untuk menghubungi nomor telepon tertentu. 

 

Saya agak tersanjung ketika beberapa minggu kemudian ada surat dari NTU yang berisi formulir pendaftaran yang saya minta di surat yang saya kirimkan sebelumnya. Universitas luar negeri yang menyempatkan diri mengirimkan korespondensi ke kota kecil untuk calon siswa yang belum tentu bisa membayar uang sekolah mereka patut mendapatkan hormat yang setinggi-tingginya.

 

Dengan iseng lagi saya melengkapi formulir pendaftaran dan mengirimkan dokumen-dokumen yang mereka butuhkan (fotokopi rapor, daftar kegiatan dan prestasi yang pernah diraih). Masih dengan setengah-hati karena begitu nanti datang informasi mengenai biaya kuliah, saya sudah siap untuk mengakhiri keisengan ini dan kembali ke dunia nyata dan menyongsong takdir saya yang sebenarnya.

Untuk mengirimkan formulir pendaftaran ke NTU waktu itu adalah perjuangan tersendiri. Saya harus naik bus ke Yogya, setelah turun bus, berganti naik bus kecil / angkutan umum 2 – 3 kali sebelum sampai ke Kantor Pos Besar Yogyakarta di dekat Malioboro untuk mengirimkan dokumen pendaftaran dengan menggunakan layanan Express Mail Service (EMS) supaya bisa dikirimkan lebih cepat ke Singapore.

 

Selepas itu saya kembali ke Klaten dan melanjutkan hidup saya.

 

Yang terjadi kemudian membuat saya sedikit deg-degan.

 

Beberapa minggu berselang, ada surat dari NTU yang ternyata berisi sebuah undangan. Undangan untuk melamar Program Beasiswa ASEAN Undergraduate Scholarship.

Saya terus terang lalu berpikir. Kalau surat itu berisi ucapan terima kasih atas formulir pendaftaran dan ini adalah lampiran biaya-biayanya, suratnya hanya akan saya jadikan koleksi.

 

Tapi ketika plot twist bernama beasiswa itu muncul, ceritanya menjadi sedikit menegangkan.

 

Ini pertama kalinya dalam hidup saya, ada kemungkinan bagi saya untuk tidak bersekolah di tempat yang sama dengan kakak saya.

 

Sebuah dimensi baru yang menjanjikan sebuah petualangan yang tidak bisa saya baca.

 

Kejutan itu masih saya respon dengan setengah hati. Diundang untuk melamar program beasiswa tidak sama dengan benar-benar mendapatkan beasiswa. Pasti saingannya banyak. Kalau kota kecil Klaten saja “kebagian” jatah untuk ikut seleksi beasiswa, yang dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogja, Surabaya, Medan dan kota-kota besar lainnya berapa orang?

 

Tapi akhirnya saya tetap mengirimkan formulir pendaftaran Program Beasiswa ke NTU dan kembali melanjutkan hidup saya.

 

Beberapa minggu kemudian surat yang tiba di rumah membuat saya tambah deg-degan.

 

Suratnya berisi undangan untuk mengikuti wawancara seleksi beasiswa di Jakarta dengan panelis dari NTU.

 

Ya Tuhan, apa yang terjadi?

 

Saya terus terang tidak percaya diri bersaing dengan peserta-peserta lain dari kota besar. Tapi apa ya undangannya mau saya tolak? Kan sayang juga kalau berhenti ketika sudah sampai tahap ini.

 

Akhirnya saya mempersiapkan diri untuk berangkat untuk wawancara ke Jakarta. Bagian dari mempersiapkan diri itu adalah mengunjungi kakak saya di Bandung sebelum ke Jakarta untuk melihat kota Bandung dan kehidupan kakak saya di sana.

 

Saya tidak tahu bahwa satu hal yang akan saya lihat di Bandung waktu itu kemungkinan besar membantu saya mengalahkan sebagian peserta lain dalam seleksi beasiswa.

>> 2.  Jika Pintu Tertutup: Wawancara Beasiswa ASEAN Scholarship